Skip to main content

Road to Germany 2006 (3)

Sekilas terbayang pergumulan kemarin: waktu konfirmasi yang mepet, email konfirmasi yang terlanjur melayang ke Bonn dan Jakarta lumpuh hampir dua minggu karena banjir.

Alam telah memberi tanda. Jerman mesti menunggu. ...(bag 2)

Niat baik saja tidak cukup. Mesti dipertimbangkan metodologi komunikasinya. Meskipun gagasan yang diusung mengandung sesuatu yang spektakuler, bisa jadi berhenti di level wacana.

Mengapa?

Karena kegagalan membangun komunikasi yang efektif. Kurang menguasai ketrampilan komunikasi. Gagap menjajakan gagasan. Kurang cakap beradaptasi dalam lingkungan baru.

Niat baik itu adalah melaporkan perkembangan baru ini kepada rekomendator saya. Hal yang sempat terlupakan. Tidak sopan bukan?

Selama hiruk pikuk ke Jakarta dan sebagainya itu, saya lupa belum melapor penerimaan aplikasi beasiswa saya ke Jerman kepada dua orang yang bersedia memberi rekomendasi kepada saya. Mereka adalah Prof. Endriatmo Soetarto (Pak Amo: Ketua STPN) dan Dr. Oloan Sitorus (PK I STPN).

Pertama saya menghadap Dr. Oloan. Saya bawa dokumen LOA yang baru saja saya terima via pos dari Bonn. Beliau terpesona. Manggut-manggut mendengarkan kompleksitas masalahnya. Dan menawarkan bantuan untuk membawa masalah ini ke Pak Amo untuk nanti diteruskan kepada BPN-1.

Waoww!!!

Perkembangan yang tidak terduga.. Saya terlonjak kegirangan. Tiba-tiba pangkal lengan saya lembab. Hmm…indikasi kimiawi yang tak terbantahkan untuk diagnosa awal antusiasme jiwa.

Empat hari kemudian, Pak Oloan menyampaikan bahwa secara lisan BPN-1 mendukung saya untuk memilih Jerman. Implikasi administratif sedang diusahakan melalui Sestama. Itu yang saya dengar dari beliau. Lebih lanjut Pak Oloan menyarankan saya untuk menyambut sinyal awal yang positif ini dengan menghadap langsung BPN-1. Oke, siap bos!

Saya keluar dari ruang Pak Oloan dengan pikiran penuh perhitungan-perhitungan. Trauma invenstasi tiket kemaren yang bener-bener membuat anggaran belanja sebulan kacau balau. Apakah bener saya siap melakukan ini? Ke Jerman? Saya sudah membayangkan sebuah tas troli Polo besar warna hijau lumut dengan saya di sampingnya sedang termangu di sebuah ruang tunggu bandara Muenchen menunggu jemputan scholar fasilitator DAAD. Apa bisa? Oke. Ayo kita hitung dulu.

Pertama, mesti ke Jakarta besok. Sediakan uang 500 ribu. Tapi di dompet cuma ada selembar biru 50 ribuan. ATM? Null!

Telepon beberapa kandidat penyandang dana. Dan berhasil!

Selanjutnya? Tiket ke Jerman? Jual mobil dan tanah? Oke, cukuplah untuk tiket dan administrasi imigrasi plus tetek bengeknya. Cari talangan dulu karena tidak mudah menjual dua properti tersebut. Sip! Gampang. Everything seems to be alright, babe!!!

Lagunya Vina Panduwinata ”Pak Pos Melayang di Udara” menggema memantul-mantul di benak saya. Perjalanan pulang dari STPN menuju kos serasa ringan. Saya jadi ingat memori 2 Juli 2002 . Saya juga ingat adegan John Travolta, ketika cinta dan kariernya melonjak di waktu yang krusial dalam film tentang penari itu (saya lupa judulnya). John berjalan dengan nikmatnya. Menebar senyum. Membagi napas optimisme. Wajahnya seolah mengabarkan kebahagiaannya tidak akan pernah berakhir. Begitu meluap.

Tapi John salah! Kebahagian ini bukan tanpa gangguan! Secepat itu menyergap, secapat itu pula menguap.

Sambil melayang itu pula saya sempatkan mampir ke sebuah wartel di tepian Godean km 4,5. Membagi kabar gembira ini kepada seorang ibu pejabat yang baik hati nan ringan tangan di Jakarta. Kapusdiklat BPN RI.

Saya laporkan kepada Kapusdiklat bahwa STPN bersedia melakukan lobi ke BPN-1. Kemungkinan berhasil sangat besar. Saya sangat antusias melaporkan. Tidak menduga bahwa di seberang sana gunung sedang mempersiapkan magmanya.

Magma itu segera meletup begitu saya akhiri laporan saya.

Setelah letupan berakhir.... Saya termangu. Membatin... Oh, Ibu pejabat yang baik hati, maafkan bila saya menyinggungmu.

"Saya sudah berusaha maksimal, pak Fahmi. Apa perlu saya kirim disposisi Sestama? Tidak percaya kepada saya? Saya bacakan ya disposisi Sestama: Fahmi CMDW, kembali dan selesaikan tugas belajar di UGM!.."

Saya mencoba mengerti dan memahami duduk persoalan mengapa magma meletup. Saya tertunduk. Lesu. Hampir menangis. Saya orang kecil tidak ada minat menginterupsi. Tidak ada niat mendebat. Tidak ada hati melawan. Tidak bermimpi menggapai mukti sementara orang lain merugi atau dipermalukan.

Saya mundur. Esoknya kepada Pak Oloan saya sampaikan keputusan saya yang mendadak dan apa yang melatarbelakanginya. Sembari dalam hati saya berteriak, "Ayolah Dok, Anda harus mendesak saya agar maju terus. Ayolah!!! Paksa saya, please…"

Tapi tidak. Pak Oloan manggut-manggut dan berkata bahwa beliau memahami keputusan saya. "Memang kompleks, Dik. Belajarlah baik-baik di UGM, dinda kejar saja mimpi ke LN nanti waktu S3 nanti.."

Niat baik memang perlu. Bahkan ibadah saja tidak syah bila tanpa niat. Namun berhenti di niat, tanpa memikirkan metodologi komunikasi, tanpa kesiapan implementasi, tanpa ketabahan argumentasi dan yang paling penting: tanpa nyali, maka semua menjadi omong kosong. Pahala yang tidak sempurna. Tertahan di langit dunia.

Begitulah, mimpi ke Jerman nampaknya menggantung di mega mendung langit Kwarasan.
How it be if you were standing in my shoes.
Can’t you see that’s impossible to choose…?
No, there’s no making sense of it. Everywhere I go I’m bound to loose…
(Queen).

Comments

Post a Comment

Popular posts from this blog

Nasyid SWARA BHUMI STPN Yogyakarta: sebuah catatan perjalanan

Background Alhamdulillah wa sholaatu ala Rasulillah Berawal di penghujung tahun 2013, ketika saya memulai jalan panjang di program S-3 Ilmu Teknik Geomatika, Departemen Teknik Geodesi UGM. Muncul gagasan-gagasan yang berkesinambungan dengan obrolan via telepon dengan Pak Mardianto (STPN 1998) dan Pak Jusvan (STPN 1998). Gagasan untuk re-mastering lagu-lagu nasyid Swara Bhumi. Langkah awal mesti diambil. Inventarisasi rekaman analog yang tersisa dari perjalanan sejarah SWAMI (1999 sd 2002) merupakan langkah awal yang baik. Setelah dodos-dodos (apa ya bahasa Indonesianya), ditemukanlah 2 kaset. Berbekal 2 kaset kompilasi SWAMI itu, yang merekam peristiwa-peristiwa: rekaman di Radio Arma 11, Live Performance di Brebes dan rekaman di Studio Retjo Buntung (album kolaborasi Swami, Justice Voice dan ust Fauzil Adhim: Agar Cinta Bersemi Indah “ACBI”), dimulailah proyek digitalisasi lagu-lagu SWAMI. Bersyukur, gayung bersambut. Pak Trisno (STPN 1998) dan Pak Sugiyanto (STPN 1998) berkenan menja...

Perjalanan Master Tesis

Memang tidak mudah menyusun karya tulis. Apalagi selevel tesis, yang menurut beberapa opini yang saya dengar, inilah level belajar meneliti. Kemarin dulu di level skripsi, belajar menulis. Nah yang bener-bener menulis dan meneliti ya nanti di level disertasi. Saya tidak hendak mengeluh. Saya hendak bercerita. Simak.

Pilpres 2014 dan 2019: perspektif metaforik

Pilpres 2014, bagi saya, adalah pengalaman sejarah negara yang ajaib dalam perspektif pribadi saya. Bagaimana tidak, nama lengkap saya dalam 2 kata terakhirnya mirip dengan nama Pak Joko Widodo (Jkw). Nama lengkap saya FCM Djoko Widodo. Asli, ini tidak ngarang. Itu satu fakta. Fakta lainnya, saya lahir di tanggal dan bulan yang sama dengan Pak Prabowo Subianto (PS). Sejak tahu fakta itu, saya jadi tertarik dengan rekam jejak PS. Saya mulai intens mengikuti perjalanan hidupnya yang ditulis dalam berbagai artikel media massa dan buku-buku biografi tokoh-tokoh penting. Ketika PS intens beriklan, jauh sebelum pilpres 2014, saya heran. Orang ini narsistik atau jenius? Apa maksudnya? Kemanakah arus hendak dia arahkan? Kembali ke Pilpres 2014. Tahun 2014 menjelang pilpres saya termenung-menung, milih yang mana ya? Ketika akhirnya menentukan pilihan, saya masih juga termangu. Kegalauan ini seolah menjelma dalam skala yang lebih luas dengan terbelahnya masyarakat dalam pilpres 2014 lalu. Ya. Te...