Sakwijining ndina, once upon a time....
Ini dongeng kisah antik. Kisah ini berseting waktu sekitar akhir 2006 s.d. awal 2007. Garis besarnya mengenai perjuangan menggapai beasiswa pemerintah Jerman (DAAD).
Kisah ini sangat tidak Hollywood banget.
Kemudian, sang pangeran dan sang putri pun hidup damai penuh cinta selamanya...
None. Nodo. Kisah ini lebih condong ke dalam arus utama karya Eropa akkhir abad pertengahan. Suram. Satir. Ada sekilas jenaka, mostly grey.. Kisah ini satir berakhir muram. Seperti Leon The Proffessional. Seperti Gibran. Seperti Queen.
Suatu sore, hari Ahad tanggal 28 Januari 2007, dalam perjalanan ke Jogja, saya iseng menengok email di Citra Media Simpang Lima Semarang. Sekian lama terbengkalai karena sibuk memasuki masa awal perkuliahan di Magister Teknik Geomatika UGM Yogyakarta. Inbox berjibun email dari teman-teman dan milis-milis (milis? kuno banget yaah).
Kulirik sekilas sebaris email dan takjub mengikuti. Mengango. Pada bagian "from" ada sebuah kata ajaib yang sangat menarik. DAAD Bonn! Yak, tak salah lagi email dari DAAD (lembaga pemberi beasiswa di bawah Pemerintah Jerman) tertanggal 26 Januari 2007. Agak gemetar saya pencet subjek email bergaris bawah itu.
Saya baca. Baca lagi. Lagi…
Dan pada bacaan kesekian baru saya yakin mengenai kandungan maksud email itu.
Email itu berisi pengumuman kelulusan saya untuk program beasiswa master yang mereka tawarkan. Saya diterima untuk mengikuti program master di Tecnische Universitat Muenchen (TUM) pada Program Master: Land Management and Land Tenure (Institut fur Geodasie, GIS und Land Management).
TUM ini menurut beberapa koresponden di Jerman, merupakan perguruan tinggi teknik terbaik di Jerman yah semacam ITB kalau di Indonesia.
Sebenarnya perjalanan menembus Jerman ini sudah saya rintis sejak tahun 2005. Dengan lilin redup di benak, karena membayangkan kemuskilan. Namun desakan seorang sahabat baik (sangat sangat sangat baik tepatnya, cenderung mesra…) membuat saya nekat mengikuti tes TOEFL di Universitas Negeri Semarang.
Baiklah saya teruskan, selepas menengok email dengan tak lupa minta konfirmasi kebenaran berita itu lewat email ke DAAD Jakarta (khas orang Indonesia yang terbiasa dengan budaya ketidakpastian dan pemahaman bahasa Inggris yang jelek), saya melanjutkan perjalanan ke Jogja. Senin ada kuliah Sistem Informasi Pertanahan. Tidak boleh bolos (baca: tidak memungkinkan). Dosennya seorang idealis lulusan Australia, Rochmad Muryamto, yang hapal seluk beluk wajah mahasiswa meski baru satu detik ketemu. Dan memang sejak menjejakkan langkah di UGM, saya sudah bertekad untuk menghilangkan penyakit suka bolos yang saya derita sejak SD. Saya bertekad untuk selalu hadir dalam setiap perkuliahan, apapun yang terjadi, kecuali bila keadaan tidak memungkinkan (contoh: malas, mules, bokek, belum buat PR, pengen ngenet, mau ke shoping, dan masih banyak lagi contoh lainnya yang tidak mungkin saya sebut satu per satu). Syukur alhamdulillah, UGM mampu menyediakan lingkungan untuk terapi penyembuhan penyakit "suka-bolos" saya itu.
Sesampai di Jogja, bimbang dan ragu masih meliputi. Ahad malam saya menemui Komkes (singkatan dari komisaris kelas semacam ketua kelas di Geomatika angkatan 8: Agus Prajitno). Sarannya: diurus dulu ke Jakarta, hasil belakangan.
Senin siang menelpon ke DAAD Jakarta, diterima staf DAAD Jakarta. Oh ya mbak staf ini orangnya sangat efisien dan resmi. Kesan profesional tampak dalam tata bahasa dan gerak-geriknya. Suaranya di telepon sangat tenang, efisien, manis dan berwibawa. Sutrisno (STPN 1998) yang saya ajak ke DAAD Jakarta beberapa waktu lalu, membisikkan sesuatu kepada saya yang membuat saya tersenyum:
"Seandainya penampilan seseorang itu berbanding lurus dengan suaranya…"
Positif. Lulus. Tidak ada keraguan lagi. Tidak ada saringan lagi. Plus difasilitasi kursus bahasa Jerman. Cukup sediakan modal perjalanan awal kurang lebih 10 juta rupiah yang bakal dikembalikan sesampainya di Muenchen.
Menelpon Kapusdiklat (Ibu Ir. Sukesi Sootyowidosari, M.Sc.). Positif.
Menelpon Pak Brahma (Bp. Brahmana Adhe, SH, M.Eng.Sc). Positif. Meledak-ledak dukungannya. Beliau adalah rekomendator saya yang pertama. Sekarang beliau pindah di Subdit Pulau Terpencil atau apa gitu di BPN Pusat.
Senin malam meluncur ke Semarang, setelah sebelumnya booking Adam Air penerbangan Semarang-Jakarta hari Selasa 30 Januari 2007 jam 06.30.
Selasa pagi sampai di Jakarta. Transit di tempatnya Chandra Pusponegoro bin Farid Amrullah. Dia mengelola tempat praktek pengobatan bekam "Bengkel Manusia", Cempaka Putih Barat XIX, Gang S No.4, Jakarta Pusat.
Sebelum mulai bergerak, saya menelepon beberapa kenalan di Kantor Pusat (Sutrisno dan istri, Herni). Dan berita bagus! Bos besar (Bp. Joyo Winoto) sedang rapat di Bogor. Kira-kira sampai akhir pekan.
Perfetta, mon ami!
Tersenyum kecut saya. Mengingat jadup (living allowance) terpotong separuh lebih untuk biaya tiket. Was it or worth it? Investasi yang baik kah?
Pada masa genting itu, sekitar jam 14.00, Kapusdiklat menelpon, meminta saya menghadap ke Pusdiklat BPN-RI Jl. Agus Salim. Harapan kembali membuncah.
Konsultasi dengan Kapusdiklat sekitar jam 14.30. Kesimpulan dari pertemuan tsb. adalah bahwa Kapusdiklat sangat senang karena baru satu orang dari BPN yang mampu menembus Jerman (?). Dan ini merupakan sesuatu yang berharga untuk diperjuangkan.
Namun mengingat saya sudah ditugasbelajarkan di UGM maka persoalan menjadi tidak sederhana. Perlu ada kebijakan langsung dari BPN-1. Karena SK tugas belajar tersebut merupakan produk dari BPN-1 maka hanya BPN-1 yang berwenang mengkoreksinya.
Implikasinya sangat rumit karena beasiswa BPN tersebut berkaitan dengan bantuan Bank Dunia. "Apakah jajaran di bawah BPN-1 yang mengurus beasiswa tidak bergejolak menolak? Ini kan bakal merepotkan, Pak Fahmi?!!"
Namun Kapusdiklat berjanji akan memberikan presentasi yang positif di depan jajaran pimpinan BPN mengenai kasus saya ini, mengingat bakal jadi preseden bagus untuk BPN dan terlebih lagi STPN, bahwa alumninya diterima di universitas terkemuka di Jerman.
Saya merasa pertemuan dengan Kapusdiklat sangat mengesankan. Ini merupakan pertemuan kedua.. Pertemuan pertama ketika merintis menembus Jerman saya pernah bertemu dengan Kapusdiklat. Sama baiknya tanggapan beliau. Sikap beliau mendapat catatan positif dalam memori saya. Seorang pejabat yang bersedia mendengar keluhan bawahannya. Peduli. Semangat. Optimis. Mau direpoti. Pun demikian ketika beliau membuka perkuliahan di UGM beberapa waktu lalu.
Melihat tanggapan Kapusdiklat yang sangat positif, dan ini memberi saya harapan meluap-luap, saya memutuskan untuk mengirim konfirmasi keberangkatan saya ke Jerman kepada DAAD Bonn!! Waktu sangat mendesak! Konfirmasi paling lambat tanggal 4 Februari 2007. Di kemudian hari keputusan saya ini mengundang masalah.
Tapi... sebuah keputusan mesti dibuat!
Selasa malam meluncur ke Ciputat. Weleh-weleh macet. Jam 17.00 dari Senen sampai di terminal Ciputat jam 20.30! Sholat jamak ta'khir di Masjid Agung Ciputat. Merasakan sejuknya air wudlu, setelah seharian kepanasan dan tidak tersentuh air. Seger.
Tak lama berselang, Slamet menjemput dengan Nouvo kebanggaannya.
Saya tengok dandanannya mirip Ksatria Baja Hitam yang lagi cari penghasilan sampingan sebagai tukang ojeg. Jaket tebal hitam, sarung tangan juga hitam, sepatu kulit hitam, dan helm full face. Setelah saya tanya ternyata memang julukannya si Ksatria Cilalung!! Close enough...
Bermalam di Cilalung, rumah Slamet, deket stasiun Sudimara. Ditemani nyamuk-nyamuk peliharaanya yang sok akrab banget. Slamet bilang, dia sudah cerita ke rekan-rekanya sesama tukang ojeg (Slamet tuh tukang ojeg beneran yah?) bahwa teman semasa SD yang hendak dijemputnya ini hendak pergi sekolah ke Jerman.
Hebat gak Pak? Yak, hebat, Met. Bagi rokoknya dong!
Rabu pagi meluncur ke Sudirman menuju kantor DAAD Jakarta. Dibonceng seorang ikhwan berjenggot (namanya lupa), tetangga Slamet. Slamet tidak bisa mengantar karena jalurnya beda, dan kebetulan si ikhwan ini searah dengan tujuan saya.
Di rumah, si tetangga Slamet ini, memang ikhwan dia, lembut dan santun. Tapi begitu mengendus aroma persaingan di jalanan Jakarta dengan sepeda motornya, si ikhwan tadi menjadi sangat garang! Ngebut, kepot kanan, kepot kiri. Membelah kemacetan yang luar biasa di pagi hari Jakarta. Waow! Kayak tes drive becak motor saja.
Awas trotoar!! Saya teriak... Sikat aja Mas! Glodhak!
Ketemu lagi dengan staf DAAD Jakarta di Gedung Summit Mas Sudirman. Sekedar ngobrol dan bertanya hal-hal kecil. Kemudian hari saya ingat-ingat pertanyaan saya tuh ternyata katrok-katrok banget deh.
"Nanti di sana pakai bahasa apa Mbak?" (Turki). "Ada wc jongkok gak?" (Nangkring aja di toilet duduk). "Kalo cebok mesti pake tissue yah?" (Pake kertas koran juga boleh). "Boleh bawa magic jar gak?" (Gak perlu, banyak yang jual nasi uduk). "Gimana soal trasi, ada yang jual juga gak?" (Gak usah mandi seminggu udah bau trasi, jadi gak perlu bawa). "Bawa rokok Gudang Garam satu slop kenak pajak, gak?" (Bentar yah, saya ada telepon). Hmm bosan dia...
Sekitar jam 14.00 (Rabu, 31 Januari 2007) meluncur ke bandara, booking Lion Air jam 16.30 tujuan Jogja. Gerimis mengiringi bus bandara membelah Jakarta menuju Cengkareng. Hmmm…Jakarta sedang muram.
Siapa yang menyangka muram ini sebuah pertanda kejadian besar tengah mengintip. Ya...beberapa saat kemudian Jakarta lumpuh karena banjir besar.
Bagian 2
Apik banget.....apakah itu juga sebuah takdir atau hanya sebuah kebtulan saja bahwa anda pada akhirnya tetap kuliah diJogja..........
ReplyDeleteseperti wayang yang diatur oleh Dalangnya.......kita sebagai manusia telah diatur jalan hidupnya.....sekuat apapun anda akan merubahnya jika tak ada ridho dari Alloh maka hasil yang lain yang akan kita terima
mari kita belajar dari peristiwa ini.....untuk diambil manfaatnya
Hmm..blog ini sudah lama sekali terbengkalai, baru sekarang bisa nengok ada komentar dari anonim (sapa ya??).
ReplyDeleteKuliah di Jogja seperti menggenapi takdir saya yang sempat terpreview tanpa sengaja oleh alam 15-an tahun lampau... Saat ini sudah beres S2 nya alhamdulillah..
Ada sedikit tambahan cerita utk episode Jerman di atas, yakni episode e-mail Director DAAD yang agak mengancam dan membuat saya trauma membuka internet kemudian ditelpon vice director DAAD Indonesia yang orang Jerman... Episode tersebut penuh pesona traumatik terhadap hal-hal yang berkaitan dengan "beasiswa-luar negeri", contohnya : saya jadi alergi email, internet dan bahasa Inggris!! Hahaha lucu ya... Sampai saat ini impian nerusin S3 ke LN tetep ada, tapi kok nyali makin mengecil... Ya Allah, mudah2an diberi yang terbaik.