Memang tidak mudah menyusun karya tulis. Apalagi selevel tesis, yang menurut beberapa opini yang saya dengar, inilah level belajar meneliti. Kemarin dulu di level skripsi, belajar menulis. Nah yang bener-bener menulis dan meneliti ya nanti di level disertasi.
Saya tidak hendak mengeluh. Saya hendak bercerita. Simak.

Pembimbing saya Doktor Trias Aditya, lulusan anyar ITC Belanda. Usianya terpaut sekitar 6 bulan lebih tua dari saya. Masih memiliki idealisme yang kadang diterjemahkan mahasiswa bimbingannya, seperti saya, sebagai bahasa langit. Sementara kami memakai bahasa bumi. Ya gak nyambung. Contohnya, ketika kami masih bergelut memahami apa itu HTML, eh beliau sudah mulai bercerita tentang arsitektur Web Service. Ya bengong lah. Tapi memang pinter orangnya. Paling tidak orang-orang ITC sudah mengakuinya, buktinya mereka memberinya PhD.
Pembimbing yang kedua adalah Pak Rochmad Muryamto. Orang pinter juga. Master lulusan Australia. Unik. Blak-blakan. Tertib. Singkatnya berinteraksi dengan Pak Rochmad seperti menonton trilogi Bourne. Menegangkan. You never know how the story will end…. Kalau tak percaya, tanya Taufik Sinaga. Hehehe…
Tesis saya sederhana. Tapi kata teman-teman sih, sulit (menyulitkan heh…?). Yah saya jalani saja. Intinya tentang bagaimana memanfaatkan basisdata pertanahan yang ada dengan teknologi Web Service. Tujuannya membuat aplikasi informasi untuk PPAT berbasis Internet. Itu saja. Simpel bukan?

Proses saya menulis seperti melakukan mozaik. Pertama saya bangun dulu sistematika alur cerita dalam bentuk diagram. Kemudian item-item diagram tersebut saya uraikan satu per satu sesuai dengan mood. Misal hari ini suasana hati ngajak nulis tentang merica, eh besoknya pengen nulis cabe keriting, suka-suka lah. Nah langkah berikutnya menyatukan unit-unit tersebut dalam satu kesatuan yang utuh. Tentu saja proses ini mesti didahului dengan pengembangan aplikasinya sendiri. Kemudian langkah penentuannya, konsultasikan dengan beliau para dosen pembimbing, teriring doa dan sholawat, moga-moga aja tepat… hehehe.

Nah pelajaran yang saya dapat dalam proses menulis tesis ini, memperkaya pemahaman saya tentang takdir. Sebagaimana sering kita dengar ceramah para ulama: Lahir, Rejeki dan Mati adalah sudah ditetapkan kapan dimana dan bagaimana. Item rejeki ini saya tambahi dengan kalimat: kapan, dimana dan nilainya berapa tesis saya itu sudah menjadi cakupan item rejeki saya.
Kayak bagaimanapun juga, saya ingat-ingat semua kronologi kejadian-kejadian, kayaknya bakal little late juga deh…
Saya tidak hendak mengeluh. Saya hendak bercerita. Simak.

Merajut asa, merencanakan aksi dalam sebuah flowchart. Ditempel di samping ranjang, agar tiap saat ingat
Pembimbing saya Doktor Trias Aditya, lulusan anyar ITC Belanda. Usianya terpaut sekitar 6 bulan lebih tua dari saya. Masih memiliki idealisme yang kadang diterjemahkan mahasiswa bimbingannya, seperti saya, sebagai bahasa langit. Sementara kami memakai bahasa bumi. Ya gak nyambung. Contohnya, ketika kami masih bergelut memahami apa itu HTML, eh beliau sudah mulai bercerita tentang arsitektur Web Service. Ya bengong lah. Tapi memang pinter orangnya. Paling tidak orang-orang ITC sudah mengakuinya, buktinya mereka memberinya PhD.
Pembimbing yang kedua adalah Pak Rochmad Muryamto. Orang pinter juga. Master lulusan Australia. Unik. Blak-blakan. Tertib. Singkatnya berinteraksi dengan Pak Rochmad seperti menonton trilogi Bourne. Menegangkan. You never know how the story will end…. Kalau tak percaya, tanya Taufik Sinaga. Hehehe…
Tesis saya sederhana. Tapi kata teman-teman sih, sulit (menyulitkan heh…?). Yah saya jalani saja. Intinya tentang bagaimana memanfaatkan basisdata pertanahan yang ada dengan teknologi Web Service. Tujuannya membuat aplikasi informasi untuk PPAT berbasis Internet. Itu saja. Simpel bukan?

Bagan alir tesis
Proses saya menulis seperti melakukan mozaik. Pertama saya bangun dulu sistematika alur cerita dalam bentuk diagram. Kemudian item-item diagram tersebut saya uraikan satu per satu sesuai dengan mood. Misal hari ini suasana hati ngajak nulis tentang merica, eh besoknya pengen nulis cabe keriting, suka-suka lah. Nah langkah berikutnya menyatukan unit-unit tersebut dalam satu kesatuan yang utuh. Tentu saja proses ini mesti didahului dengan pengembangan aplikasinya sendiri. Kemudian langkah penentuannya, konsultasikan dengan beliau para dosen pembimbing, teriring doa dan sholawat, moga-moga aja tepat… hehehe.

Ujian tesis, tim penguji: Bp. Gondang Riyadi, Dr. Subaryono, Dr. Trias dan Bp. Rochmad Muryamto, tim pendukung: mas Afiat dan mbak Elly
Nah pelajaran yang saya dapat dalam proses menulis tesis ini, memperkaya pemahaman saya tentang takdir. Sebagaimana sering kita dengar ceramah para ulama: Lahir, Rejeki dan Mati adalah sudah ditetapkan kapan dimana dan bagaimana. Item rejeki ini saya tambahi dengan kalimat: kapan, dimana dan nilainya berapa tesis saya itu sudah menjadi cakupan item rejeki saya.
Kayak bagaimanapun juga, saya ingat-ingat semua kronologi kejadian-kejadian, kayaknya bakal little late juga deh…
karna pengen ngasih komen yanglebih ceria,jadi tunggu abis pengumuman ujian le aja yah.tapi secara singkat le analisis blog mas (ehem!)makin berbobot. apalagi dengan adanya poto le di situ.hehehe...Little Mary.
ReplyDeleteyah saya mencoba.tapi sodara kita, slamet, malah menilai blog nan indah ini cuman layak dapat c-,beliau sodara slamet cenderung memilih blog mu….dasar amatir… hehehe…
ReplyDelete