Pilpres 2014, bagi saya, adalah pengalaman sejarah negara yang ajaib dalam perspektif pribadi saya. Bagaimana tidak, nama lengkap saya dalam 2 kata terakhirnya mirip dengan nama Pak Joko Widodo (Jkw). Nama lengkap saya FCM Djoko Widodo. Asli, ini tidak ngarang.
Itu satu fakta.
Fakta lainnya, saya lahir di tanggal dan bulan yang sama dengan Pak Prabowo Subianto (PS). Sejak tahu fakta itu, saya jadi tertarik dengan rekam jejak PS. Saya mulai intens mengikuti perjalanan hidupnya yang ditulis dalam berbagai artikel media massa dan buku-buku biografi tokoh-tokoh penting. Ketika PS intens beriklan, jauh sebelum pilpres 2014, saya heran. Orang ini narsistik atau jenius? Apa maksudnya? Kemanakah arus hendak dia arahkan?
Kembali ke Pilpres 2014. Tahun 2014 menjelang pilpres saya termenung-menung, milih yang mana ya? Ketika akhirnya menentukan pilihan, saya masih juga termangu. Kegalauan ini seolah menjelma dalam skala yang lebih luas dengan terbelahnya masyarakat dalam pilpres 2014 lalu.
Ya. Terbelah. Saling baku pukul di medsos. Suasana medsos kayak neraka. Twitter. FB. WA. BBM. Penuh perseteruan, kebencian, caci maki. Membuat saya akhirnya meng-uninstall aplikasi medsos dan left dari beberapa WAG.
Oke, lanjut. Hasil termenung-menung itu menghasilkan teori cocoklogi. Saya urutkan sejak deklarasi capres PS hingga deklarasi capres Jkw, tahun 2014. Oh tidak, lebih tepat bila saya tarik lagi lebih ke titik lebih awal.
Tahapannya secara urutan waktu bisa ditulis seperti ini: (1) Jkw terpilih sebagai Walikota Solo, (2) Konflik Jkw vs Bibit Waluyto (eks Gubernur Jawa Tengah), (3) Jkw mengajukan diri sebagai Cagub DKI Jakarta dengan Esemka-nya, (4) PS mendukung Ahok sebagai Cawagub Jkw, skip skip skip…
Hingga, titik paling krusial menurut saya: PS mendeklarasikan dirinya sebagai Capres 2014. Mendahului manuver parpol-parpol lainnya. Saat itu PDI-P sedang bingung juga. Apakah mendukung Mega-Jkw atau Jkw-misterX (waktu itu nama JK belum muncul sebagai pendamping Jkw). Eh tahu-tahu PKS mengumumkan dukungannya kepada PS. In the very first time! Kemudian kita tahu PS menggandeng HR untuk maju Pilpres 2014, dan Jkw menggandeng JK (banyak bagian yang saya skip, karena rujukan, terutama terkait time-line, yang belum lengkap saya temukan).
Nah, berdasar uraian di atas, saya lontarkan hipotesis abal-abal yang membuat saya dimusuhi, baik oleh fans PS maupun fans Jkw. Bahwa Jkw bisa melenggang menang, salah satu faktornya adalah berkat PS. Kini, di Pilpres 2019, hipotesis itu sudah nyata. Jkw menang lagi, dan PS jadi Menhan. Uhukkk.
Angkat topi untuk LBP the real king maker. Tentang LBP, yah begitu kira-kira yang ditulis e-magazine Intisari awal tahun 2014. Maaf ini berdasar ingatan saya, sumbernya -majalah Intisari tersebut- belum ketemu.
PS mungkin masih idola saya, namun kenyataannya, sudah lebih dari 5 tahun ini dan tentu untuk 5 tahun ke depan, saya harus mengakui dan menerima bahwa Jkw adalah Presiden RI a.k.a. Boss saya. Uhukk, lagi.
Itu cerita saya.
Itu satu fakta.
Fakta lainnya, saya lahir di tanggal dan bulan yang sama dengan Pak Prabowo Subianto (PS). Sejak tahu fakta itu, saya jadi tertarik dengan rekam jejak PS. Saya mulai intens mengikuti perjalanan hidupnya yang ditulis dalam berbagai artikel media massa dan buku-buku biografi tokoh-tokoh penting. Ketika PS intens beriklan, jauh sebelum pilpres 2014, saya heran. Orang ini narsistik atau jenius? Apa maksudnya? Kemanakah arus hendak dia arahkan?
Kembali ke Pilpres 2014. Tahun 2014 menjelang pilpres saya termenung-menung, milih yang mana ya? Ketika akhirnya menentukan pilihan, saya masih juga termangu. Kegalauan ini seolah menjelma dalam skala yang lebih luas dengan terbelahnya masyarakat dalam pilpres 2014 lalu.
Ya. Terbelah. Saling baku pukul di medsos. Suasana medsos kayak neraka. Twitter. FB. WA. BBM. Penuh perseteruan, kebencian, caci maki. Membuat saya akhirnya meng-uninstall aplikasi medsos dan left dari beberapa WAG.
Oke, lanjut. Hasil termenung-menung itu menghasilkan teori cocoklogi. Saya urutkan sejak deklarasi capres PS hingga deklarasi capres Jkw, tahun 2014. Oh tidak, lebih tepat bila saya tarik lagi lebih ke titik lebih awal.
Tahapannya secara urutan waktu bisa ditulis seperti ini: (1) Jkw terpilih sebagai Walikota Solo, (2) Konflik Jkw vs Bibit Waluyto (eks Gubernur Jawa Tengah), (3) Jkw mengajukan diri sebagai Cagub DKI Jakarta dengan Esemka-nya, (4) PS mendukung Ahok sebagai Cawagub Jkw, skip skip skip…
Hingga, titik paling krusial menurut saya: PS mendeklarasikan dirinya sebagai Capres 2014. Mendahului manuver parpol-parpol lainnya. Saat itu PDI-P sedang bingung juga. Apakah mendukung Mega-Jkw atau Jkw-misterX (waktu itu nama JK belum muncul sebagai pendamping Jkw). Eh tahu-tahu PKS mengumumkan dukungannya kepada PS. In the very first time! Kemudian kita tahu PS menggandeng HR untuk maju Pilpres 2014, dan Jkw menggandeng JK (banyak bagian yang saya skip, karena rujukan, terutama terkait time-line, yang belum lengkap saya temukan).
Nah, berdasar uraian di atas, saya lontarkan hipotesis abal-abal yang membuat saya dimusuhi, baik oleh fans PS maupun fans Jkw. Bahwa Jkw bisa melenggang menang, salah satu faktornya adalah berkat PS. Kini, di Pilpres 2019, hipotesis itu sudah nyata. Jkw menang lagi, dan PS jadi Menhan. Uhukkk.
Angkat topi untuk LBP the real king maker. Tentang LBP, yah begitu kira-kira yang ditulis e-magazine Intisari awal tahun 2014. Maaf ini berdasar ingatan saya, sumbernya -majalah Intisari tersebut- belum ketemu.
PS mungkin masih idola saya, namun kenyataannya, sudah lebih dari 5 tahun ini dan tentu untuk 5 tahun ke depan, saya harus mengakui dan menerima bahwa Jkw adalah Presiden RI a.k.a. Boss saya. Uhukk, lagi.
Itu cerita saya.
Comments
Post a Comment