Gerimis mengiringi bus bandara membelah Jakarta menuju Cengkareng. Hmmm…Jakarta sedang muram (siapa yang menyangka muram ini sebuah pertanda kejadian besar tengah mengintip, ya...beberapa hari kemudian Jakarta lumpuh karena banjir besar). ....(bag 1)
Rabu sore sekitar jam 17.30 sampe di Jogja (tanggal 31 Januari 2007). Menuju kos Kwarasan. Handphone mati sejak di pesawat. Batere habis dan charger ketinggalan di Semarang. Sempat beli charger kodok di Jakarta. Bener-bener nyebelin charger kodok ini, untuk bisa merecharge, batere ponsel mesti dilepas dari handphone. Gak ada pilihan lain sih.
Kamis pagi jam 06.00 Kapusdiklat menelpon. Marah. Karena semalaman mencoba menelpon handphone saya tidak berhasil. Iya lha wong lagi dicharge dengan charge universal aneh itu. Setelah agak reda marahnya beliau menyampaikan instruksi berkenaan dengan urusan saya.
Instruksinya adalah saya mesti membuat surat ke Sestama (Sekretaris Utama BPN-RI), yang intinya menceritakan kronologi dan sekaligus meminta arahan bagaimana langkah selanjutnya.
Saat itu juga saya ketik draft surat tersebut dengan komputer Kainda, STPN 1995. Surat kelar langsung saya fax ke BPN Pusat dan Pusdiklat. Urusan ngefax ke BPN Pusat itu saya banyak dibantu Hatta Firmansyah (STPN 2000). Saat itu dia mengemban tugas sebagai ajudan Sestama (catatan kecil : biaya transport kemarin plus urusan ngefax menghabiskan dana tidak kurang dari 600 ribu rupiah! Wew, bakal banyak prihatin bulan ini!).
Malam Jumat. Menunggu. Jam 21.00 menelpon Kapusdiklat. Belum ada keputusan. Dijanjikan besok bakda sholat Jumat. Oke.
Dan, saudara-saudara, believe it or not, di masa-masa injury time itu, Jumat tanggal 2 Februari 2007, Jakarta dilanda banjir besar !!!
Kegiatan seluruh kota Jakarta lumpuh total!

Banjir besar Jakarta tahun 2007 (sumber: arsip gambar Google)
Kapusdiklat yang waktu itu saya telpon, tidak masuk kantor, beliau sedang sangat sibuk menolong keluarganya yang juga kebanjiran di Ciputat. Ini di luar kesanggupan manusia, Mas.
Jadi rencana lobi ke BPN-1 gagal! Dalam hati saya masygul. Agak cemas, karena kemaren sudah terlanjur mengirim konfirmasi keberangkatan. Apa kira-kira konsekuensinya? Apa yang bakal terjadi? Sewot. Marah. Bingung.
Like A Stone-nya Audio Slave meraung. Saya datar. Tidak mengerti. Padahal pertanda alam jelas tergelar di depan mata. Semestinya saya sejuk. Membaca alam. Tunduk.
Sekilas terbayang pergumulan kemarin: waktu konfirmasi yang mepet, email konfirmasi yang terlanjur melayang ke Bonn dan kemudian Jakarta lumpuh hampir dua minggu karena banjir. Alam telah memberi tanda. Jerman mesti menunggu.
Hmmm…man proposes, God disposes…
Alhamdulillah ala kulli hal.
Catatan akhir Bagian 2: Kira-kira bulan Maret atau April, Kapusdiklat memberi kabar bahwa disposisi dari BPN-1 kosong. Artinya BPN-1 menyerahkan kepada Sestama urusan saya ini. Dan keputusan Sestama adalah saya tetap di UGM. Great!!
Bagian 3 (tamat)
Comments
Post a Comment