Sekilas terbayang pergumulan kemarin: waktu konfirmasi yang mepet, email konfirmasi yang terlanjur melayang ke Bonn dan Jakarta lumpuh hampir dua minggu karena banjir.
Alam telah memberi tanda. Jerman mesti menunggu. ...(bag 2)
Niat baik saja tidak cukup. Mesti dipertimbangkan metodologi komunikasinya. Meskipun gagasan yang diusung mengandung sesuatu yang spektakuler, bisa jadi berhenti di level wacana.
Mengapa?
Karena kegagalan membangun komunikasi yang efektif. Kurang menguasai ketrampilan komunikasi. Gagap menjajakan gagasan. Kurang cakap beradaptasi dalam lingkungan baru.
Niat baik itu adalah melaporkan perkembangan baru ini kepada rekomendator saya. Hal yang sempat terlupakan. Tidak sopan bukan?
Selama hiruk pikuk ke Jakarta dan sebagainya itu, saya lupa belum melapor penerimaan aplikasi beasiswa saya ke Jerman kepada dua orang yang bersedia memberi rekomendasi kepada saya. Mereka adalah Prof. Endriatmo Soetarto (Pak Amo: Ketua STPN) dan Dr. Oloan Sitorus (PK I STPN).
Pertama saya menghadap Dr. Oloan. Saya bawa dokumen LOA yang baru saja saya terima via pos dari Bonn. Beliau terpesona. Manggut-manggut mendengarkan kompleksitas masalahnya. Dan menawarkan bantuan untuk membawa masalah ini ke Pak Amo untuk nanti diteruskan kepada BPN-1.
Waoww!!!
Perkembangan yang tidak terduga.. Saya terlonjak kegirangan. Tiba-tiba pangkal lengan saya lembab. Hmm…indikasi kimiawi yang tak terbantahkan untuk diagnosa awal antusiasme jiwa.
Empat hari kemudian, Pak Oloan menyampaikan bahwa secara lisan BPN-1 mendukung saya untuk memilih Jerman. Implikasi administratif sedang diusahakan melalui Sestama. Itu yang saya dengar dari beliau. Lebih lanjut Pak Oloan menyarankan saya untuk menyambut sinyal awal yang positif ini dengan menghadap langsung BPN-1. Oke, siap bos!
Saya keluar dari ruang Pak Oloan dengan pikiran penuh perhitungan-perhitungan. Trauma invenstasi tiket kemaren yang bener-bener membuat anggaran belanja sebulan kacau balau. Apakah bener saya siap melakukan ini? Ke Jerman? Saya sudah membayangkan sebuah tas troli Polo besar warna hijau lumut dengan saya di sampingnya sedang termangu di sebuah ruang tunggu bandara Muenchen menunggu jemputan scholar fasilitator DAAD. Apa bisa? Oke. Ayo kita hitung dulu.
Pertama, mesti ke Jakarta besok. Sediakan uang 500 ribu. Tapi di dompet cuma ada selembar biru 50 ribuan. ATM? Null!
Telepon beberapa kandidat penyandang dana. Dan berhasil!
Selanjutnya? Tiket ke Jerman? Jual mobil dan tanah? Oke, cukuplah untuk tiket dan administrasi imigrasi plus tetek bengeknya. Cari talangan dulu karena tidak mudah menjual dua properti tersebut. Sip! Gampang. Everything seems to be alright, babe!!!
Lagunya Vina Panduwinata ”Pak Pos Melayang di Udara” menggema memantul-mantul di benak saya. Perjalanan pulang dari STPN menuju kos serasa ringan. Saya jadi ingat memori 2 Juli 2002 . Saya juga ingat adegan John Travolta, ketika cinta dan kariernya melonjak di waktu yang krusial dalam film tentang penari itu (saya lupa judulnya). John berjalan dengan nikmatnya. Menebar senyum. Membagi napas optimisme. Wajahnya seolah mengabarkan kebahagiaannya tidak akan pernah berakhir. Begitu meluap.
Tapi John salah! Kebahagian ini bukan tanpa gangguan! Secepat itu menyergap, secapat itu pula menguap.
Sambil melayang itu pula saya sempatkan mampir ke sebuah wartel di tepian Godean km 4,5. Membagi kabar gembira ini kepada seorang ibu pejabat yang baik hati nan ringan tangan di Jakarta. Kapusdiklat BPN RI.
Saya laporkan kepada Kapusdiklat bahwa STPN bersedia melakukan lobi ke BPN-1. Kemungkinan berhasil sangat besar. Saya sangat antusias melaporkan. Tidak menduga bahwa di seberang sana gunung sedang mempersiapkan magmanya.
Magma itu segera meletup begitu saya akhiri laporan saya.
Setelah letupan berakhir.... Saya termangu. Membatin... Oh, Ibu pejabat yang baik hati, maafkan bila saya menyinggungmu.
"Saya sudah berusaha maksimal, pak Fahmi. Apa perlu saya kirim disposisi Sestama? Tidak percaya kepada saya? Saya bacakan ya disposisi Sestama: Fahmi CMDW, kembali dan selesaikan tugas belajar di UGM!.."
Saya mencoba mengerti dan memahami duduk persoalan mengapa magma meletup. Saya tertunduk. Lesu. Hampir menangis. Saya orang kecil tidak ada minat menginterupsi. Tidak ada niat mendebat. Tidak ada hati melawan. Tidak bermimpi menggapai mukti sementara orang lain merugi atau dipermalukan.
Saya mundur. Esoknya kepada Pak Oloan saya sampaikan keputusan saya yang mendadak dan apa yang melatarbelakanginya. Sembari dalam hati saya berteriak, "Ayolah Dok, Anda harus mendesak saya agar maju terus. Ayolah!!! Paksa saya, please…"
Tapi tidak. Pak Oloan manggut-manggut dan berkata bahwa beliau memahami keputusan saya. "Memang kompleks, Dik. Belajarlah baik-baik di UGM, dinda kejar saja mimpi ke LN nanti waktu S3 nanti.."
Niat baik memang perlu. Bahkan ibadah saja tidak syah bila tanpa niat. Namun berhenti di niat, tanpa memikirkan metodologi komunikasi, tanpa kesiapan implementasi, tanpa ketabahan argumentasi dan yang paling penting: tanpa nyali, maka semua menjadi omong kosong. Pahala yang tidak sempurna. Tertahan di langit dunia.
Begitulah, mimpi ke Jerman nampaknya menggantung di mega mendung langit Kwarasan.
How it be if you were standing in my shoes.
Can’t you see that’s impossible to choose…?
No, there’s no making sense of it. Everywhere I go I’m bound to loose…
(Queen).
[…] Bagian 3 […]
ReplyDelete