Skip to main content

Posts

Nazar ngepel masjid...

Jumat kemarin, tepatnya tanggal 14 Agustus 1998, saya dapat surat dari Laily. Isinya lucu banget dan menggemaskan. (Ini karena kemampuannya mengartikulasikan percakapan lisan ke dalam bahasa tulisan. Renyah!). Surat itu dilampiri selembar foto keluarga bersetting candi Borobudur (betapa manis dan penuh artinya mengirim saya foto keluarga itu. You, my sweety, speak books to me !!). Ajaibnya surat itu tertanggal 10 Agustus 1998 (tanggal cap posnya di perangko terlihat cukup jelas), jadi ... itu berarti 3 hari sebelum tanggal kadaluwarsa yang saya tetapkan. Konsekuensinya saya wajib bayar nadzar saya : ngepel masjid (emang sih enggak usah pake nadzar segala kalo emang niat mau ngepel masjid, tapi kan biar seru dan semangat, so sah-sah aja itu ... hi hi hi). Surat Laily kali ini penting sekali karena membuka misteri yang selama ini tertutup tentang latar belakang sikap bermusuhannya dengan saya beberapa waktu lalu, Saya sebenarnya sudah me-reka-reka seperti apa kira-kira kejadiannya. Sekar...

Rinduku menggumpal di pantai

Prosa liris berikut ini adalah hasil merekam keberangkatan Laily sekeluarga ke jambi. Kalau gak salah hari Ahad kejadiannya. Keseluruhan hari sebenarnya cerah, namun pas mau masuk maghrib tahu-tahu hujan lebat. Sebentar kemudian reda. Bakda maghrib anak-anak ngaji pada ngumpul di rumah Le, perpisahan ceritanya. Saya ada di antara hiruk pikuk itu. Di pojok . Engga tahu mau berbuat apa. Engga tahu mau ngomong apa. Engga tahu apa yang di rasa. Kosong. Bolong.sepi.Ngun-ngun sendiri. Setelah semua usai, saya ke marks waringit nonton piala dunia, waktu itu pertandingan Jerman lawan...ah lupa, yang jelas saya menonton bola. Tapi kesadaran saya tidak di bola, ngleyang entah di mana. Saya sendiri bingung di mana tercecernya. Ah sudahlah. Jangan sedih. Boleh ding sedih, tapi sedikit aja ya, jangan banyak-banyak. O iya, yang ngantarr sampai ke stasiun Nadiah sama Afif. Beberapa tahun kemudian (kemarin ini, tepatnya September 2002) Nadiah bilang seharusnya saya juga ikut ngantar ke stasiun. Nadiah...

Khalil Gibran dan May Ziadah

Episode surat saya akhir-akhir ini secara spontan dan tanpa skenario membawa dunia Gibran ke adik. Awalnya saya memang sekedar tersentuh oleh kisah Gibran dengan May Ziadah, yang kira-kira hampir miriplah dengan kisah saya ini. Lama kelamaan ada juga beberapa petikan karya Gibran yang saya pakai dalam surat-surat saya. Nah, kebetulan sekali ketika membaca karya Murtadho Muthahari (ulama Syiah) ada dibahas di situ tentang amal seorang kafir dalam pandangan Islam dengan contoh khusus tentang Khalil Gibran. Gibran bercerita mengenai Ali bin Abi Tholib RA dengan kerinduan besar, juga mengenai pribadi Nabi Muhammad SAW yang mulia. Mengenai Imam Ali RA, Gibran menulis: Ali telah dilahirkan mendahului zamanya, dan aku tidak tahu apa rahasianya apabila ke dunia dilahirkan orang-orang yang mendahului zamannya Kecintaan dan penghormatan Gibran terhadap Imam Ali begitu besar yang demikian bahkan mungkin lebih besar dari yang diberikan sebagian muslim membuat kita bertanya dalam hati: apakah yang ...