Prosa liris berikut ini adalah hasil merekam keberangkatan Laily sekeluarga ke jambi. Kalau gak salah hari Ahad kejadiannya. Keseluruhan hari sebenarnya cerah, namun pas mau masuk maghrib tahu-tahu hujan lebat. Sebentar kemudian reda.
Bakda maghrib anak-anak ngaji pada ngumpul di rumah Le, perpisahan ceritanya. Saya ada di antara hiruk pikuk itu. Di pojok . Engga tahu mau berbuat apa. Engga tahu mau ngomong apa. Engga tahu apa yang di rasa. Kosong. Bolong.sepi.Ngun-ngun sendiri.
Setelah semua usai, saya ke marks waringit nonton piala dunia, waktu itu pertandingan Jerman lawan...ah lupa, yang jelas saya menonton bola. Tapi kesadaran saya tidak di bola, ngleyang entah di mana. Saya sendiri bingung di mana tercecernya. Ah sudahlah. Jangan sedih. Boleh ding sedih, tapi sedikit aja ya, jangan banyak-banyak. O iya, yang ngantarr sampai ke stasiun Nadiah sama Afif.
Beberapa tahun kemudian (kemarin ini, tepatnya September 2002) Nadiah bilang seharusnya saya juga ikut ngantar ke stasiun. Nadiah bernostagia masa-masa ketika mengantar Le. Trus Nadiah menambahkan, masak gak pengen ngeliat adik terakhir kali sebelum berpisah. Saya bilang, pengen sih, Cuma saya takut gak sanggup. Lha wong ketika masih di rumah ngeliat adik begitu ceria, enteng, tertawa, sante.. itu aja bikin perih menggumpul di kerongkongan. Ahh...itu anak kok enteng sekali, gak tau ya Mas-nya udah hancur berkeping-keping. Huhh. Apakah lagi saya ke stasiun.
Nadiah senyum, aaihh sampe sebegitunya ya mas ini. Iyya. Pengen dong kayak gitu. Maksudnya? Disayang seperti itu. Husshh! He he he.
Saya sempat gak percaya gak percaya pembicaraan dengan Nadiah ini betul-betul terjadi. Pembicaraan yang telah lama saya inginkan, dengan topik yang saya idam-idamkan, tenteng Le!
RINDUKU MENGGUMPAL DI PANTAI
Malam itu, sorenya mendung disusul hujan lebat
Sebelum hari petang benar, gelap sudah menguasai parabola langit.
Mendung di langit, mendung di hati
Kelabu langit, kelabu hati.
Aku tak banyak bicara
Hanya diam, memandang, mengenang dan sesekali tergetar.
Beberapa cercah senyum menghibur,
Tawa pelepas lara,
Tangis nyeri,
Tepukan hangat menabahkan di punggung,
Jabat tangan dan pelukan penghabisan
Mengalir, tumpah dan hiruk pikuk
Semuanya berlangsung dalam potongan-potongan slide bisu.
Ketika langit beranjak kelabu tua
Dan jeritan lelawa memantul-mantul di daunan
Tiba-tiba jemari pelangi menjulur ke bumi
Menjadi terang segenap sudut dengan warna-warna
Wajah-wajah pun berwarna
Sejenak nyeri menjadi gema kecil tak berarti di aula maha luas
Menyaksikan merpati kecil terbang bersama jemari
Pelangi ke angkasa raya
Menuju satu titik cemerlang bintang timur
Dengan gerakan yang disetel pada mode ‘slow motion’
Pelan, menghanyutkan , menyihir...
Dan detik menjadi tahun ...
Bersamanya terbang pula sebagian besar sanubariku.
Dan aku yang menjadi setengah tidak bernyawa, tengadah
Ke langit yang kembali kelabu
Dengan perih, terasing, tak percaya dan sendiri
Dan perihku mengusir gumpalan kelabu di langit
Mencoba mencari bulan
Mencoba mencari bintang
Akan kuceritakan pada mereka
Segala nyeri yang terasa di ujung-ujung ruh
Setelah puas
Duduk, lelah, menunggu....
Mengendap keruh telaga
Dari lempung yang terlumat,
Debu, pasir, kerikil dan batu-batu mungil
Dengan setting lantunan Tombo ati
Emosi yang terkondisi sebagai dirigen
Membumbung dan meledak.....
Bait-bait refrain yang tiba-tiba bersenyawa
Dengan Symphony No.40-nya Mozart... dan terbang..
Bakda maghrib anak-anak ngaji pada ngumpul di rumah Le, perpisahan ceritanya. Saya ada di antara hiruk pikuk itu. Di pojok . Engga tahu mau berbuat apa. Engga tahu mau ngomong apa. Engga tahu apa yang di rasa. Kosong. Bolong.sepi.Ngun-ngun sendiri.
Setelah semua usai, saya ke marks waringit nonton piala dunia, waktu itu pertandingan Jerman lawan...ah lupa, yang jelas saya menonton bola. Tapi kesadaran saya tidak di bola, ngleyang entah di mana. Saya sendiri bingung di mana tercecernya. Ah sudahlah. Jangan sedih. Boleh ding sedih, tapi sedikit aja ya, jangan banyak-banyak. O iya, yang ngantarr sampai ke stasiun Nadiah sama Afif.
Beberapa tahun kemudian (kemarin ini, tepatnya September 2002) Nadiah bilang seharusnya saya juga ikut ngantar ke stasiun. Nadiah bernostagia masa-masa ketika mengantar Le. Trus Nadiah menambahkan, masak gak pengen ngeliat adik terakhir kali sebelum berpisah. Saya bilang, pengen sih, Cuma saya takut gak sanggup. Lha wong ketika masih di rumah ngeliat adik begitu ceria, enteng, tertawa, sante.. itu aja bikin perih menggumpul di kerongkongan. Ahh...itu anak kok enteng sekali, gak tau ya Mas-nya udah hancur berkeping-keping. Huhh. Apakah lagi saya ke stasiun.
Nadiah senyum, aaihh sampe sebegitunya ya mas ini. Iyya. Pengen dong kayak gitu. Maksudnya? Disayang seperti itu. Husshh! He he he.
Saya sempat gak percaya gak percaya pembicaraan dengan Nadiah ini betul-betul terjadi. Pembicaraan yang telah lama saya inginkan, dengan topik yang saya idam-idamkan, tenteng Le!
RINDUKU MENGGUMPAL DI PANTAI
Malam itu, sorenya mendung disusul hujan lebat
Sebelum hari petang benar, gelap sudah menguasai parabola langit.
Mendung di langit, mendung di hati
Kelabu langit, kelabu hati.
Aku tak banyak bicara
Hanya diam, memandang, mengenang dan sesekali tergetar.
Beberapa cercah senyum menghibur,
Tawa pelepas lara,
Tangis nyeri,
Tepukan hangat menabahkan di punggung,
Jabat tangan dan pelukan penghabisan
Mengalir, tumpah dan hiruk pikuk
Semuanya berlangsung dalam potongan-potongan slide bisu.
Ketika langit beranjak kelabu tua
Dan jeritan lelawa memantul-mantul di daunan
Tiba-tiba jemari pelangi menjulur ke bumi
Menjadi terang segenap sudut dengan warna-warna
Wajah-wajah pun berwarna
Sejenak nyeri menjadi gema kecil tak berarti di aula maha luas
Menyaksikan merpati kecil terbang bersama jemari
Pelangi ke angkasa raya
Menuju satu titik cemerlang bintang timur
Dengan gerakan yang disetel pada mode ‘slow motion’
Pelan, menghanyutkan , menyihir...
Dan detik menjadi tahun ...
Bersamanya terbang pula sebagian besar sanubariku.
Dan aku yang menjadi setengah tidak bernyawa, tengadah
Ke langit yang kembali kelabu
Dengan perih, terasing, tak percaya dan sendiri
Dan perihku mengusir gumpalan kelabu di langit
Mencoba mencari bulan
Mencoba mencari bintang
Akan kuceritakan pada mereka
Segala nyeri yang terasa di ujung-ujung ruh
Setelah puas
Duduk, lelah, menunggu....
Mengendap keruh telaga
Dari lempung yang terlumat,
Debu, pasir, kerikil dan batu-batu mungil
Dengan setting lantunan Tombo ati
Emosi yang terkondisi sebagai dirigen
Membumbung dan meledak.....
Bait-bait refrain yang tiba-tiba bersenyawa
Dengan Symphony No.40-nya Mozart... dan terbang..
Akhirnya jatuh...
Dengan kening yang basah
Dalam peluk dan elusan jemari lentik Elvira Madigan
Terlelap...
Enggan terjaga, meski nyeri sesekali menyengat.
Disadur dengan sepenuh jiwa epik :
“Bridge Over Troubled Water “.
Comments
Post a Comment