Jumat kemarin, tepatnya tanggal 14 Agustus 1998, saya dapat surat dari Laily. Isinya lucu banget dan menggemaskan. (Ini karena kemampuannya mengartikulasikan percakapan lisan ke dalam bahasa tulisan. Renyah!). Surat itu dilampiri selembar foto keluarga bersetting candi Borobudur (betapa manis dan penuh artinya mengirim saya foto keluarga itu. You, my sweety, speak books to me !!).
Ajaibnya surat itu tertanggal 10 Agustus 1998 (tanggal cap posnya di perangko terlihat cukup jelas), jadi ... itu berarti 3 hari sebelum tanggal kadaluwarsa yang saya tetapkan. Konsekuensinya saya wajib bayar nadzar saya : ngepel masjid (emang sih enggak usah pake nadzar segala kalo emang niat mau ngepel masjid, tapi kan biar seru dan semangat, so sah-sah aja itu ... hi hi hi).
Surat Laily kali ini penting sekali karena membuka misteri yang selama ini tertutup tentang latar belakang sikap bermusuhannya dengan saya beberapa waktu lalu, Saya sebenarnya sudah me-reka-reka seperti apa kira-kira kejadiannya. Sekarang semua tersibak. Uhh. Saya kemudian ketawa keras, iyya keras sekali. Bukan puas atau berbangga, hanya sekedar melepas semua penat yang saya pendam. Oh God. Saya lega!!! Ha ha huaaaa haa ha !!! (I wish it could last forever).
catatan : Surat ini bagi saya merupakan titik balik yang pertama dalam proses menebak isi hati Laily. Saya sesumbar laily gak mungkin ngirim surat balasan lebih dari tanggal 13. Kalo Laily ngirim surat balasan lebih dari tanggal 13, maka saya berani memastikan tidak ada apa-apa di hatinya untuk saya harapkan. Ternyata surat terkirim tanggal 10 cap pos (agak-agak metafisik memang, ya gitulah, susah dijelasin secara kongkret arti angka tanggal itu). SO, setelah surat itu tiba, saya menjadi yakin (bukan ge’er , ini gak ada hubungannya dengan ge’er sodara-sodara!) bahwa ada yang patut saya harapkan dari bidadari kecil ini. Dan selanjutnya titik balik terus dan terus bertambah seiring kayakinan saya. Yang kedua ditandai surat dari Caca, uhhh kalo yang ini asli saya ge’er buanget. Abis gak siap sih untuk yang blak-balakan kayak gini. Ya wajar lah ge’er nerima anugerah seperti ini.
Ajaibnya surat itu tertanggal 10 Agustus 1998 (tanggal cap posnya di perangko terlihat cukup jelas), jadi ... itu berarti 3 hari sebelum tanggal kadaluwarsa yang saya tetapkan. Konsekuensinya saya wajib bayar nadzar saya : ngepel masjid (emang sih enggak usah pake nadzar segala kalo emang niat mau ngepel masjid, tapi kan biar seru dan semangat, so sah-sah aja itu ... hi hi hi).
Surat Laily kali ini penting sekali karena membuka misteri yang selama ini tertutup tentang latar belakang sikap bermusuhannya dengan saya beberapa waktu lalu, Saya sebenarnya sudah me-reka-reka seperti apa kira-kira kejadiannya. Sekarang semua tersibak. Uhh. Saya kemudian ketawa keras, iyya keras sekali. Bukan puas atau berbangga, hanya sekedar melepas semua penat yang saya pendam. Oh God. Saya lega!!! Ha ha huaaaa haa ha !!! (I wish it could last forever).
catatan : Surat ini bagi saya merupakan titik balik yang pertama dalam proses menebak isi hati Laily. Saya sesumbar laily gak mungkin ngirim surat balasan lebih dari tanggal 13. Kalo Laily ngirim surat balasan lebih dari tanggal 13, maka saya berani memastikan tidak ada apa-apa di hatinya untuk saya harapkan. Ternyata surat terkirim tanggal 10 cap pos (agak-agak metafisik memang, ya gitulah, susah dijelasin secara kongkret arti angka tanggal itu). SO, setelah surat itu tiba, saya menjadi yakin (bukan ge’er , ini gak ada hubungannya dengan ge’er sodara-sodara!) bahwa ada yang patut saya harapkan dari bidadari kecil ini. Dan selanjutnya titik balik terus dan terus bertambah seiring kayakinan saya. Yang kedua ditandai surat dari Caca, uhhh kalo yang ini asli saya ge’er buanget. Abis gak siap sih untuk yang blak-balakan kayak gini. Ya wajar lah ge’er nerima anugerah seperti ini.
Dia, Camelia, puisi dan pelitaku
Kau sejuk seperti titik embun
Membasah di daun jambu di pinggir kali
Yang bening
Sayap-sayapmu kecil lincah berkepak
Seperti burung camar terbang
Mencari tiang sampan
Tempat berpijak kaki dengan pasti
Mengarungi nasibmu mengikuti
Arus air berlari
Dia, Camelia, engkaulah gadis itu
Yang selalu hadir
Dalam mimpi-mimpi di setiap tidurku
Datang untuk hati yang kering dan sepi
Agar bersemi lagi
Bersemi lagi
(Ebiet: Camelia I)
Comments
Post a Comment