Skip to main content

Sambel Goreng Rambak

Prolog

Sambel goreng rambak (SGR) adalah masakan warisan budaya Jawa. Sering ditemui di berbagai penjual bubur pagi yang biasa membuka lapaknya di rumah masing-masing atau di sekitar tempat tinggalnya. Bukan tukang bubur yang dorong gerobak atau kaki lima.


SGR cocok dimakan dengan nasi, lontong maupun bubur atau ketupat. Semakin hari dipanasi semakin sedap rasannya. Tambahan udang dan telur (puyuh) rebus akan semakin menambah mantap rasanya. Beberapa model dan variasi SGR bisa ditemui di berbagai pelosok Jawa. Warna kuah, kekentalan, sampai level pedas bisa disesuaikan selera masing-masing. Dan yang terpenting murah namun nikmat..


Berikut dijelaskan bahan, bumbu dan cara memasaknya:



Bahan

1. Kulit sapi / rambak / cecek = 1/2 ons

2. Tahu pong 20 biji

3. Udang ukuran sedang 2 ons (kupas kulit)

4. Santan kelapa 1/2 butir tidak kupas kulit tipis coklatnya (diperas dengan 4 gelas air, air pertama hangat)



Bumbu

1. Cabe rawit merah (setan) 20 biji (5 biji bulat)

2. Jahe dan kunyit 1 ruas

3. Daun salam 2 lembar

4. Serai (1 batang)

5. Gula merah 1 jempol jari

6. Gula pasir 1/2 sdm

7. Bawang merah 6 butir

8. Bawang putih 3 butir

9. Garam 1 sdm

10. Laos 1 ruas (dikeprek)



Cara Memasak

1. Bumbu 1, 2, 7, 8 dan 9 dihaluskan (blender/tumbuk), kemudian tumis sampai harum

2. Masukkan bumbu 10 dan bahan 3

3. Masukkan bahan 4, didihkan sambil diaduk

4. Masukkan bahan 1, kemudian selang 5 menit masukkan bahan 2

5. Api dikecilkan, tunggu sampai tanak, 30 menit sd 1 jam

Comments

Popular posts from this blog

Nasyid SWARA BHUMI STPN Yogyakarta: sebuah catatan perjalanan

Background Alhamdulillah wa sholaatu ala Rasulillah Berawal di penghujung tahun 2013, ketika saya memulai jalan panjang di program S-3 Ilmu Teknik Geomatika, Departemen Teknik Geodesi UGM. Muncul gagasan-gagasan yang berkesinambungan dengan obrolan via telepon dengan Pak Mardianto (STPN 1998) dan Pak Jusvan (STPN 1998). Gagasan untuk re-mastering lagu-lagu nasyid Swara Bhumi. Langkah awal mesti diambil. Inventarisasi rekaman analog yang tersisa dari perjalanan sejarah SWAMI (1999 sd 2002) merupakan langkah awal yang baik. Setelah dodos-dodos (apa ya bahasa Indonesianya), ditemukanlah 2 kaset. Berbekal 2 kaset kompilasi SWAMI itu, yang merekam peristiwa-peristiwa: rekaman di Radio Arma 11, Live Performance di Brebes dan rekaman di Studio Retjo Buntung (album kolaborasi Swami, Justice Voice dan ust Fauzil Adhim: Agar Cinta Bersemi Indah “ACBI”), dimulailah proyek digitalisasi lagu-lagu SWAMI. Bersyukur, gayung bersambut. Pak Trisno (STPN 1998) dan Pak Sugiyanto (STPN 1998) berkenan menja...

Perjalanan Master Tesis

Memang tidak mudah menyusun karya tulis. Apalagi selevel tesis, yang menurut beberapa opini yang saya dengar, inilah level belajar meneliti. Kemarin dulu di level skripsi, belajar menulis. Nah yang bener-bener menulis dan meneliti ya nanti di level disertasi. Saya tidak hendak mengeluh. Saya hendak bercerita. Simak.

Pilpres 2014 dan 2019: perspektif metaforik

Pilpres 2014, bagi saya, adalah pengalaman sejarah negara yang ajaib dalam perspektif pribadi saya. Bagaimana tidak, nama lengkap saya dalam 2 kata terakhirnya mirip dengan nama Pak Joko Widodo (Jkw). Nama lengkap saya FCM Djoko Widodo. Asli, ini tidak ngarang. Itu satu fakta. Fakta lainnya, saya lahir di tanggal dan bulan yang sama dengan Pak Prabowo Subianto (PS). Sejak tahu fakta itu, saya jadi tertarik dengan rekam jejak PS. Saya mulai intens mengikuti perjalanan hidupnya yang ditulis dalam berbagai artikel media massa dan buku-buku biografi tokoh-tokoh penting. Ketika PS intens beriklan, jauh sebelum pilpres 2014, saya heran. Orang ini narsistik atau jenius? Apa maksudnya? Kemanakah arus hendak dia arahkan? Kembali ke Pilpres 2014. Tahun 2014 menjelang pilpres saya termenung-menung, milih yang mana ya? Ketika akhirnya menentukan pilihan, saya masih juga termangu. Kegalauan ini seolah menjelma dalam skala yang lebih luas dengan terbelahnya masyarakat dalam pilpres 2014 lalu. Ya. Te...