Breaking News “In Memoriam Soeharto”
Ahad 27 Januari 2008 jam 13.10 WIB, mantan Presiden Soeharto meninggal dunia di RS Pertamina Jakarta Pusat. Almarhum akan dimakamkan di Astana Giribangun Karanganyar Jawa Tengah berdampingan dengan makam alm. Ibu Tin, besok siang.
Wimar Witoelar dalam sebuah kesempatan wawancara dengan VOA Indonesia, merespon opini pihak yang mengimbau permaafan kasus Soehato tersebut sebagai tidak tepat. Menurut Wimar bahwa hak memaafkan berada penuh pada korban atau keluarga korban kebijakan Soeharto, baik itu korban jiwa maupun korban materi lainnya. Nampaknya Wimar belum pernah nonton “Collateral Damage” (lhoh apa hubungannya?).
Begitu gencarnya pemberitaan, sampai saat ini jam 21.00 WIB ada sekitar 4 stasiun TV swasta yang melakukan bloking acara khusus Breaking News dengan tema yang tidak jauh dari “Mengenang Jenderal Besar HM Soeharto”. Bahkan Pemerintah mengumumkan 7 hari berkabung nasional.
Sejak sore saya tadi tidak beranjak dari depan TV. Saya ikuti scene demi scene yang ditayangkan beberapa stasiun TV. Rata-rata memutar dokumentasi bertema keberhasilan Soeharto. Teman sebelah kos sempat mengeluh wah bakal tidak ada film nih! Tapi saya lihat Anteve dan Trans7 tetap menayangkan live sepakbola luar negeri. Ya iyyalah, sudah bayar kok gak ditayangkan ya rugi kan, Mas!
Yang menarik adalah menyimak penuturan Siswono Yudhohusodho, mantan Menpera dan Mentrans jaman Soeharto. Menurut Siwono, Soeharto pribadi yang memikat. Soeharto tidak pernah (nampak) marah. Bahkan selalu senyum (yang menurut AM Fatwa, mantan lawan politik dan pernah dipenjara rezim Soeharto, senyumnya itu memikat). Selalu kalem, setiap ucapan dan tindakannya tidak pernah meledak-ledak penuh perhitungan dan perencanaan. Penuh dedikasi, ini diperkuat pernyataan Wiranto yang pernah menjadi ajudan selama 3 tahun, bahwa semisal ada surat yang tiba di Istana yang memerlukan keputusan maka keesokan harinya sudah ada keputusan yang dibuat. Tekun, indikasinya adalah penguasaan detil pertanian yang selama ini menjadi trade mark pembangunan Soeharto. Konsisten, setiap sebelum pengambilan suatu kebijakan maka Soeharto membuka perdebatan seluas-luasnya, namun begitu keputusan dibuat maka Soeharto menuntut semua pihak untuk melaksanakannya tanpa ragu.
Soeharto bersalah dengan menumpuk hutang dan mengakibatkan inflasi yang hebat sehingga ekonomi Indonesia kolaps pada tahun 1997. Benarkah?
Dalam ilmu ekonomi ada teori yang dikemukakan oleh Irving Fisher: Teori Kuantitas Uang. Yakni jumlah uang yang beredar dikali kecepatan peredaran uang adalah sebanding dengan tingkat harga secara umum dan volume transaksi.
Olah grafis teori Kuantitas Uang
Dalam jangka pendek kecepatan peredaran (V) uang dan volume tranksaksi (T) cenderung konstan, sehingga apabila jumlah uang beredar (M) bertambah maka tingkat harga secara umum (P) juga akan naik. Naiknya tingkat harga secara terus menerus inilah yang dinamakan INFLASI. Namun penanggulangannya tidak sesederhana teori di atas dengan cara membalikkan rumus, yakni dengan dikuranginya jumlah uang beredar. Namun lebih kompleks lagi mesti diperhitungkan jenis inflasi, kelompok barang dan masyarakat yang kena inflasi dan asal inflasi. Menurut kategorisasi Bank Dunia laju inflasi dibagi menjadi 3 level.
- Inflasi ringan = laju inflasi di bawah 10%
- Inflasi sedang = antara 10% sd 30%
- Inflasi berat = antara 30% sd 100%
- Inflasi super berat = lebih dari 100%
Inflasi yang diwariskan Soeharto menurut kategori di atas tergolong inflasi berat.
Namun harap diingat, Soeharto mewarisi dari Soekarno laju inflasi 630 % !! Dan dalam kurun waktu 15 tahunan Soeharto berhasil membawa Indonesia menjadi negara pengekspor beras terpilih dan mendapat penghargaan FAO tahun 1986 karena swasembada pangan yang berhasil dicapai Indonesia. Jadi mari kita menjadi bangsa yang besar. Mikul dhuwur mendhem jero. Mengambil dan meneruskan hal-hal yang baik dan belajar untuk tidak mengulangi kesalahan-kesalahan pendahulu.
Saya pribadi adalah sebagian kecil dari yang tidak sepakat dengan banyak (yang nampaknya sebagai) kebijakan Soeharto, tapi sikap itu cukuplah saya pertahankan sampai Soeharto turun. Begitu beliau turun, maka yang saya lihat hanyalah manusia kecil tua yang ditinggal sendiri oleh sahabat-sahabatnya (atau para penjilatnya?). Saya segera merevisi sikap saya. Cukuplah Allah saja yang akan mengadili manusia lemah itu. Sekarang saya membelanya. Saya ingat pernyataan sedih Ketua STPN, Dr. SB Silalahi, sesaat sebelum dilengserkan dari jabatan Ketua STPN dalam sebuah kuliah yang rupanya adalah kuliah terakhirnya: Pemimpin itu sesungguhnya adalah orang yang paling kesepian di muka bumi.
Dan hanya hamba Allah sejati sajalah yang mampu berempati kepada manusia-manusia kesepian ini.
Pak Harto, terima kasih dan selamat jalan. Sekarang engkau betul-betul "nglurug tanpo bolo". Semoga Allah SWT menerima amal ibadah dan mengampuni setiap kesalahanmu.
Update 2012 :
Beberapa waktu lalu (kira-kira April 2012), di sekitar Tugu Muda Semarang, saya lihat poster Soeharto menutupi kaca belakang sebuah angkot. Di bagian bawah poster Soeharto itu ada sebuah tulisan :
"Piye? Isih Enak Jamanku Toooo...." (Jawa: Gimana? Masih enak jamanku, kaann..)

Ini meme di bak truk pasir (sumber: unknown)

bagaimana dengan kecepatan peredaran uang kartal ? apa rumusnya ?terima kasih , , ,
ReplyDeleteHm...sayang sekali buku2 saya sudah saya kirim ke kampung, dan pelajaran itu sudah samar2 di ingatan.Tapi bila saya temukan rumus itu akan saya post ke email anda.Btw, email anda?
ReplyDeleteuntuk teori Fisher bisa juga dilihat di link ini :
ReplyDeletehttp://ekonomi161.blogspot.com/2009/02/teori-uang-kuantitas-richardo-vs-fisher.html
untuk kecepatan peredaran uang kartal, dikembangkan dari rumus di atas menjadi :
ReplyDelete(Mk x Vk) + (Mg x Vg) = P x T
dengan k = kartal, dan g = giral