Diangkat dari buku jumal harian singa muda yang baru saja diangkat menjadi pemimpin di kelompoknya:
Musim semi kelima, ketika rumput ramai berbunga....
Induk singa itu sebentar memandangku
Sebentar menengok ke dalam guanya
Sekejap, bias ragu tampak di getar seringai taringnya
Ketika aku menanyakan hal anaknya
Induk Singa itu mengeram
Geram lembut dalam nuansa bimbang
Antara etika yang menuntunnya menyambut tetamu
Versus naluri keibuan yang lebih mendentingkan bahaya
Aku memahaminya
Memahami geram lembut Induk Singa itu
Memahami seringai pengusirannya
Dan aku Singa Muda Jatan Perkasa
Raja baru pride singa di Serengetti
Yang sukses membabat Singa Jantan Tua, penguasa lama Pride
Yang gurat cakar pertarungan masih memerah segar di sekujur tubuh
Yang dengan keperkasaanku dan kekuasaanku bisa saja memaksakan
Setiap lecut kecil angkara
Tapi....
Aku memilih undur diri
Memilih bersabar dan menunggu
Memilih menuruni bukit meninggalkan gua dengan damai
Dan badai mengiringi kepergianku
Terbang di atas rumput lalang
Merobek dedauan perdu dan belukar
Pohon-pohon terhumbalang
Sabana mengkerut di cekam ngeri
Sesampai di padang
Berhenti, nafas memburu
Mengira sudah selesai gemuruh
Tapi di dalam masih tersisa bongkahan lava membara
Dan sebuah auman apa salahnya...
Maka kengerian memuncak....
Antelop, wildebeast, rusa ekor putih, zebra...
Bahkan gajah, si tangguh itu
Semua pingsan...
Leopard, cheetah, jaguar...
Semua terbirit-birit
Hyena si licik itu
Beringsut ke lubangnya,
Membiarkan daging empuk herbivora yang pingsan
Kemudian sepi...
Angin-angin sisa menerbangkan helai daun
Matahari merah berdebu di langit tembaga
Dan dengan segenap lelah
Termangu di tepi oase
Memandangi pantulan-ku yang gagah bersurai
Tapi bukan bayang-ku yang temukan di sana
Melainkan sosok manusia,
Dengan gitar dalam pelukan,
Berdiri di atas bukit padas,
Awan putih terbang di belakangnya,
Ekstase dalam balutan emosi bait-baitnya...
Catatan : Dua liris di atas lahir dari sebuah peristiwa yang terjadi pada tanggal 3 Maret 1998, ketika itu saya bermaksud mengembalikan buku yang sya pinjam dari Laily. Yang menerima buku itu Bu Ali (mama si Laily) karena Laily sedang tidur. Waktu itu kira-kira jam setengah tiga siang. Terus saya pulang, nah pertemuan dengan Bu Ali itulah yang menyebabkan tiba-tiba ada semacam perasaan yang menyergap yang saya tidak mampu menggambarkannya dalam bentuk deskripsi kosakata manapun sehingga ‘sergapan’ itu kuterjemahkan saja dalam dua liris di atas.
Musim semi kelima, ketika rumput ramai berbunga....
Induk singa itu sebentar memandangku
Sebentar menengok ke dalam guanya
Sekejap, bias ragu tampak di getar seringai taringnya
Ketika aku menanyakan hal anaknya
Induk Singa itu mengeram
Geram lembut dalam nuansa bimbang
Antara etika yang menuntunnya menyambut tetamu
Versus naluri keibuan yang lebih mendentingkan bahaya
Aku memahaminya
Memahami geram lembut Induk Singa itu
Memahami seringai pengusirannya
Dan aku Singa Muda Jatan Perkasa
Raja baru pride singa di Serengetti
Yang sukses membabat Singa Jantan Tua, penguasa lama Pride
Yang gurat cakar pertarungan masih memerah segar di sekujur tubuh
Yang dengan keperkasaanku dan kekuasaanku bisa saja memaksakan
Setiap lecut kecil angkara
Tapi....
Aku memilih undur diri
Memilih bersabar dan menunggu
Memilih menuruni bukit meninggalkan gua dengan damai
Dan badai mengiringi kepergianku
Terbang di atas rumput lalang
Merobek dedauan perdu dan belukar
Pohon-pohon terhumbalang
Sabana mengkerut di cekam ngeri
Sesampai di padang
Berhenti, nafas memburu
Mengira sudah selesai gemuruh
Tapi di dalam masih tersisa bongkahan lava membara
Dan sebuah auman apa salahnya...
Maka kengerian memuncak....
Antelop, wildebeast, rusa ekor putih, zebra...
Bahkan gajah, si tangguh itu
Semua pingsan...
Leopard, cheetah, jaguar...
Semua terbirit-birit
Hyena si licik itu
Beringsut ke lubangnya,
Membiarkan daging empuk herbivora yang pingsan
Kemudian sepi...
Angin-angin sisa menerbangkan helai daun
Matahari merah berdebu di langit tembaga
Dan dengan segenap lelah
Termangu di tepi oase
Memandangi pantulan-ku yang gagah bersurai
Tapi bukan bayang-ku yang temukan di sana
Melainkan sosok manusia,
Dengan gitar dalam pelukan,
Berdiri di atas bukit padas,
Awan putih terbang di belakangnya,
Ekstase dalam balutan emosi bait-baitnya...
Dan terdengar senandung ombak di lautan
Menambah rindu dan gelisah
Adakah angin gunung, adakah angin padang
Mendengar keluhanku, mendengar jeritanku
Dan membebaskan ku dari belenggu sepi...
(Ebiet, Camelia IV)
Catatan : Dua liris di atas lahir dari sebuah peristiwa yang terjadi pada tanggal 3 Maret 1998, ketika itu saya bermaksud mengembalikan buku yang sya pinjam dari Laily. Yang menerima buku itu Bu Ali (mama si Laily) karena Laily sedang tidur. Waktu itu kira-kira jam setengah tiga siang. Terus saya pulang, nah pertemuan dengan Bu Ali itulah yang menyebabkan tiba-tiba ada semacam perasaan yang menyergap yang saya tidak mampu menggambarkannya dalam bentuk deskripsi kosakata manapun sehingga ‘sergapan’ itu kuterjemahkan saja dalam dua liris di atas.
Comments
Post a Comment