27-10-2017
Hai pasangan-pasangan legendaris, warisan kami ketahuanmu mencintai keabadian. Pasangan-pasangan yang selalu di sebut-sebut dalam doa walimah, yang menjadi tauladan dan harapan-harapan terkadang impian- bagi pasangan yang didoakan.Adam- Hawa. Yusuf-Zulaikha. Ali-Fatimah. Hasan al Basri-Rabiah al Adawiyah.Di manakah ruh daya juang kalian sekarang ini? Mengapa kisah-kisah penrcintaan konyol saja yang sampai ke telinga kami?Mengapa tiada sesedikitpun ketauladanan kalian temgiang di keriuhan dunia materialis ini? Apakah kalian ansich legenda? Manis diceritakan, namun hampir mustahil terjadi di masa kontemporer? Maaf bila kami sinis, apriori. Kami putus asa. Bagaimana tidak putus. Aspek fisiologi kami tumbuh lebih cepat di banding aspek psikologis kami, di lain pihak terdapat bagi kami kultur yang sejuk untuk meringankan gegar yang kami alami akibat kesenjangan pertumbuhan itu. Ssementara kultur yanga ada justru memperparah gegar yang kami alami. Sebagai dari kami secara sangat sadar mengetahui dengan apa gegar itu bisa diobati, namun tidak tahu bagaiamana cara mendapatkannya atau kadang malah tidak mampu mendapatkannya. Padahal nabi Mulia telah menauladankan mekanisme yang sederhana untuk meraihnya. Tetapi betapa sulit ternayat merealisasikannya di masa ketika orientasi sudah sedemikian jauh condongnya menjauhi aspek batiniyyah. Ketika ahlaq dan kabar keimanan tidak lagi menjadi kriteria kepentasan seseorang. Oh zaman macam man pula ini, yang merelakan dajjal menyucup kesuburan pemuda-pemudanya dan sekaligus mengeringkan indung telur pemudi-pemudinya.Pakah salah bila kami akhirnya membangun dunia kami sendiri, dengan idealisme kami, dengan segala mimpi kami, dengan segala syahwat kami.
Maka lahirlan roman-roman picisan. Percintaan konyol yang seakan agung. Si pemuda harus memilik kenekatan Romeo. Si pemudi harus mewarisi kesetiaan Juliet. Kami tidak tahu apakah ini salah atau benar. Pada akhirnya kami toh jadi tidak peduli lagi. Konsekusensinya adalah kerbau ada di mana-mana. Kerbau yang berkumpul. Kerbau yang bangga. Sebagaian nya, ya kami ini. Sebagian. Tidak semua.Masih ada rasa ingin kembali pad sebagian sisanya. Kembali kepada mekanisme Nabi Mulia. Dan itu diejawantahkan dalam halaqoh-halaqoh yang dirawt oleh murabbi-murabbi. Semoga mendapatkan barokah. Mungkin baru sebatas inilah yang mampu kami lakukan, sebagai jawaban dari keinginan untuk menggenapkan dien. Ya allah, dewasakan kami seutuhnya. Hasbunallah wa ni’mal wakil. Ni’mal mawla wa ni’man natsir.
Catatan : Naskah diatas adalah gubahan dari yang asli.Yang asli lebih menarik. Lebih mencerminkan putus asa. Itu tidak baik. Gubahan diatas sedapat mungkin saya dekatkan ke makna sebagaimana diemban yang asli (maksud yang ingin di sampaikan ternyata memiliki kemiripan dngan visi seorang ustadz yang kemudian saya temui di Yogya, nama beliau : Mohammad Fauzil Adhim). Yang asli pun saya merasa berat sekali mmbacanya. Jadi begitulah agar tidak menambah dekan, yang itu tidak mendidik, saya edit beberapa bagian. Dan apabila masih menyisakan frustasi, maafkan, dan sebagai peringan di nbawah ini saya cuplikkan artikel :
Apabila ditilik dari sini, ada hal yang perlu kita pertanyakan, sudahkah kita memiliki sifat rasyid ini? Pertanyaan ini agaknya sulit kita jawab. Bukan karena kita tidak mampu berbicara, melainkan karena kebanyakan dari kita belum betul-betul memiliki sifat rasyid ini. Salah satu sebabnya, kita tidak dididik untuk dewasa dan mandiri sejak dini, sehingga begitu kita mengalami mimpi basah 9 ihtilam) hanya angan-angan kita yang melambung tinggi, sedangkan kedewasaan kita masih tertinggal di bumi. Kita sudah membanyangkan saat-saat tak terbayngakan, menimang anak bersam istri tersayang, tetapi rasa tanggungjawab belum kita kembangkan. Hidup sehari-hari jugs biaya kuliah masih mengandalkan sambungan orang tua. Kita memang sudah memiliki kemampuan membelanjakan harta, tetapi dalam pengertian mampu membelanjakan tanpa harus berpikir bagaimana mencarinya sacara halal..”(Mohammad Fauzil adhim-Indahnya PernikahanDini)
Hai pasangan-pasangan legendaris, warisan kami ketahuanmu mencintai keabadian. Pasangan-pasangan yang selalu di sebut-sebut dalam doa walimah, yang menjadi tauladan dan harapan-harapan terkadang impian- bagi pasangan yang didoakan.Adam- Hawa. Yusuf-Zulaikha. Ali-Fatimah. Hasan al Basri-Rabiah al Adawiyah.Di manakah ruh daya juang kalian sekarang ini? Mengapa kisah-kisah penrcintaan konyol saja yang sampai ke telinga kami?Mengapa tiada sesedikitpun ketauladanan kalian temgiang di keriuhan dunia materialis ini? Apakah kalian ansich legenda? Manis diceritakan, namun hampir mustahil terjadi di masa kontemporer? Maaf bila kami sinis, apriori. Kami putus asa. Bagaimana tidak putus. Aspek fisiologi kami tumbuh lebih cepat di banding aspek psikologis kami, di lain pihak terdapat bagi kami kultur yang sejuk untuk meringankan gegar yang kami alami akibat kesenjangan pertumbuhan itu. Ssementara kultur yanga ada justru memperparah gegar yang kami alami. Sebagai dari kami secara sangat sadar mengetahui dengan apa gegar itu bisa diobati, namun tidak tahu bagaiamana cara mendapatkannya atau kadang malah tidak mampu mendapatkannya. Padahal nabi Mulia telah menauladankan mekanisme yang sederhana untuk meraihnya. Tetapi betapa sulit ternayat merealisasikannya di masa ketika orientasi sudah sedemikian jauh condongnya menjauhi aspek batiniyyah. Ketika ahlaq dan kabar keimanan tidak lagi menjadi kriteria kepentasan seseorang. Oh zaman macam man pula ini, yang merelakan dajjal menyucup kesuburan pemuda-pemudanya dan sekaligus mengeringkan indung telur pemudi-pemudinya.Pakah salah bila kami akhirnya membangun dunia kami sendiri, dengan idealisme kami, dengan segala mimpi kami, dengan segala syahwat kami.
Maka lahirlan roman-roman picisan. Percintaan konyol yang seakan agung. Si pemuda harus memilik kenekatan Romeo. Si pemudi harus mewarisi kesetiaan Juliet. Kami tidak tahu apakah ini salah atau benar. Pada akhirnya kami toh jadi tidak peduli lagi. Konsekusensinya adalah kerbau ada di mana-mana. Kerbau yang berkumpul. Kerbau yang bangga. Sebagaian nya, ya kami ini. Sebagian. Tidak semua.Masih ada rasa ingin kembali pad sebagian sisanya. Kembali kepada mekanisme Nabi Mulia. Dan itu diejawantahkan dalam halaqoh-halaqoh yang dirawt oleh murabbi-murabbi. Semoga mendapatkan barokah. Mungkin baru sebatas inilah yang mampu kami lakukan, sebagai jawaban dari keinginan untuk menggenapkan dien. Ya allah, dewasakan kami seutuhnya. Hasbunallah wa ni’mal wakil. Ni’mal mawla wa ni’man natsir.
Catatan : Naskah diatas adalah gubahan dari yang asli.Yang asli lebih menarik. Lebih mencerminkan putus asa. Itu tidak baik. Gubahan diatas sedapat mungkin saya dekatkan ke makna sebagaimana diemban yang asli (maksud yang ingin di sampaikan ternyata memiliki kemiripan dngan visi seorang ustadz yang kemudian saya temui di Yogya, nama beliau : Mohammad Fauzil Adhim). Yang asli pun saya merasa berat sekali mmbacanya. Jadi begitulah agar tidak menambah dekan, yang itu tidak mendidik, saya edit beberapa bagian. Dan apabila masih menyisakan frustasi, maafkan, dan sebagai peringan di nbawah ini saya cuplikkan artikel :
Salah satu syarat ‘ aqil baligh adalah adanya sifat rasyid atau kecendekiaan. Secara sederhana artinya adalah mampu mengambil pertimbanganyang sehat dalam memutuskn perkara, memiliki kemampuan unruk memilih yng lebih penting dri yang penting, dan yang penting dari yang kurang penting, serta mandiri dalam ekonomi, dsb. Mampu membelanjakan hartanya secara bijak dan dengan pertimbangan akal sehat.
Apabila ditilik dari sini, ada hal yang perlu kita pertanyakan, sudahkah kita memiliki sifat rasyid ini? Pertanyaan ini agaknya sulit kita jawab. Bukan karena kita tidak mampu berbicara, melainkan karena kebanyakan dari kita belum betul-betul memiliki sifat rasyid ini. Salah satu sebabnya, kita tidak dididik untuk dewasa dan mandiri sejak dini, sehingga begitu kita mengalami mimpi basah 9 ihtilam) hanya angan-angan kita yang melambung tinggi, sedangkan kedewasaan kita masih tertinggal di bumi. Kita sudah membanyangkan saat-saat tak terbayngakan, menimang anak bersam istri tersayang, tetapi rasa tanggungjawab belum kita kembangkan. Hidup sehari-hari jugs biaya kuliah masih mengandalkan sambungan orang tua. Kita memang sudah memiliki kemampuan membelanjakan harta, tetapi dalam pengertian mampu membelanjakan tanpa harus berpikir bagaimana mencarinya sacara halal..”(Mohammad Fauzil adhim-Indahnya PernikahanDini)
But please you must forgive me, I am old but still achild (Queen: All dead, All dead)
Comments
Post a Comment