Skip to main content

Pak Harto di mata Adinda

Suatu hari sehabis ngaji, saya dan Adinda terlibat suatu percakapan bertema dunia politik di Indonesia. Errmmm sebenarnya Adinda sejak beberapa lama ini gak lagi’ngomong’ ke saya, entah kenapa saya gak tau (waktu itu gak tau, kemudian selang setahun saya baru dikasih tahu). Perkiraan saya waktu itu ada tindakan saya yang gak berkenan di hatinya, dan oleh karena itu saya sudah minta permakluman dari Adinda (permasalahan itu pada gilirannya nanti akan terbuka dengan sendirinya, sunatullah!)  Dan ‘ngambe’ Adinda itu berlangsung selama sekitar dua tahunan ! Haa... !! ck ck ck.... Adinda memang tangguh dalam hal memegang prinsip yang baginya dirasa benar. Betapa mengagumkan, sekaligus di sisi lain pedih terasa. Itulah kenapa saya- setelah permintaan maaf pertama kurang ditanggapi -  memilih untuk cooling down,  intropeksi, menyadari posisi masing-masing. Disinilah juga terletak daya tariknya (dingin, beku, jarang bergeming, tangguh, keras) kekuatan di dalam dirinya yang memancar dalam sinar mata dan artikulasi kata-katanya. Cakep.

Syukurlah hari-hari itu sudah berlalu. Ya diawali dengan percakapanini, sehabis mengaji ini, tema khususnya membahas kesediaan Pak Harto untuk dipilih kembali sebagai Presiden RI. Adinda heran, kok gak merasa harus memberi jalan bagi yang muda untuk memegang amanah memimpin RI. Bukankah itu indikasi ketamakan dan ketidakpercayaan. Ini berbahaya sekaligus memuakkan baginya. (Suatu saat nanti tahun 1998 – kekhaatiran Adinda terbukti : Pak Harto digulingkan oleh gerakan masa)

Saya yang waktu itu sedang ditatar di LPJ, terdoktrinasi P-4, menanggapi : bahwa yang tampak oleh mata tidaklah hal yang sesungguhnya terjadi, maksudnya... tampaknya sih sepele : Pak Harto mau, gitu aja titik, namun proses bagaimana akhirnya dia bilang ‘mau’ itu sungguh rumit dan mendebarkan. Suatu permasalahan selalu tidak beridiri dengan sendiri namun merupakan rentetan yang saling mempengaruhi. Kenapa Pak Harto tiba-tiba bersedia dipilih lagi, padalah beberapa waktu lalu sempat terlontar hendak lengser. Pasti itu karena ada pihak lain yang mendorong dan mendukungnya. Pihak lain ini pun di dorong oleh kepentingan-kepentingan. Kepentingan-kepentingan ini selalu saja terkait dengan masalah : kekuasaan, kewenangan, uang, dsb yang jelas tidak jauh dari itu. Itu anggapan saya. Yaah memang sih tanggapan khas seorang biokrat, lha gimana lagi saya kan memang biokrat. Seorang biokrat selalu memandang suatu permasalahan, rumit, komplek, tidak beridiri sendiri sebagaimana biokrasi itu sendiri : berbeli dan bertele-tele. Mendengar jawaban saya ini adinda manggut-manggut, entah kenapa dia selalu saja puas dengan jawaban-jawaban saya ( waa hidung saya membesar nihhh...).

Tema berikutnya adalah : kgeramannya kepada pembuat resah umat Islam. Mereka harus dilenyapkan! Katanya. Seberapapun kuat dan berkuasanya kezaliman, pada akhirnya kebenaran juga yang akan menang, menurutnya. Tanggapan saya : serahkan saja segala urusan pada ahlinya, bagi kita rakyat biasa jalani kehidupan ini dengan wajar sambil selalu berusaha memaksa diri sendiri untuk menghindari kesalahan-kesalahan (ini sebetulnya prioritas bagi tiap individu, tapi kok susah ya?). Sebagaimana pesan Rasulullah : mulailah dari diri kita sendiri !

Percakapan selesai, diakhiri dengan sedikit penutup oleh Pak Chalim dan pembacaan sholawat bareng-bareng. Tiba-tiba ada semacam kerinduan menyeruak, rindu sinar matanya yang bening...

20 10 1997

Comments

Popular posts from this blog

Nasyid SWARA BHUMI STPN Yogyakarta: sebuah catatan perjalanan

Background Alhamdulillah wa sholaatu ala Rasulillah Berawal di penghujung tahun 2013, ketika saya memulai jalan panjang di program S-3 Ilmu Teknik Geomatika, Departemen Teknik Geodesi UGM. Muncul gagasan-gagasan yang berkesinambungan dengan obrolan via telepon dengan Pak Mardianto (STPN 1998) dan Pak Jusvan (STPN 1998). Gagasan untuk re-mastering lagu-lagu nasyid Swara Bhumi. Langkah awal mesti diambil. Inventarisasi rekaman analog yang tersisa dari perjalanan sejarah SWAMI (1999 sd 2002) merupakan langkah awal yang baik. Setelah dodos-dodos (apa ya bahasa Indonesianya), ditemukanlah 2 kaset. Berbekal 2 kaset kompilasi SWAMI itu, yang merekam peristiwa-peristiwa: rekaman di Radio Arma 11, Live Performance di Brebes dan rekaman di Studio Retjo Buntung (album kolaborasi Swami, Justice Voice dan ust Fauzil Adhim: Agar Cinta Bersemi Indah “ACBI”), dimulailah proyek digitalisasi lagu-lagu SWAMI. Bersyukur, gayung bersambut. Pak Trisno (STPN 1998) dan Pak Sugiyanto (STPN 1998) berkenan menja...

Perjalanan Master Tesis

Memang tidak mudah menyusun karya tulis. Apalagi selevel tesis, yang menurut beberapa opini yang saya dengar, inilah level belajar meneliti. Kemarin dulu di level skripsi, belajar menulis. Nah yang bener-bener menulis dan meneliti ya nanti di level disertasi. Saya tidak hendak mengeluh. Saya hendak bercerita. Simak.

Pilpres 2014 dan 2019: perspektif metaforik

Pilpres 2014, bagi saya, adalah pengalaman sejarah negara yang ajaib dalam perspektif pribadi saya. Bagaimana tidak, nama lengkap saya dalam 2 kata terakhirnya mirip dengan nama Pak Joko Widodo (Jkw). Nama lengkap saya FCM Djoko Widodo. Asli, ini tidak ngarang. Itu satu fakta. Fakta lainnya, saya lahir di tanggal dan bulan yang sama dengan Pak Prabowo Subianto (PS). Sejak tahu fakta itu, saya jadi tertarik dengan rekam jejak PS. Saya mulai intens mengikuti perjalanan hidupnya yang ditulis dalam berbagai artikel media massa dan buku-buku biografi tokoh-tokoh penting. Ketika PS intens beriklan, jauh sebelum pilpres 2014, saya heran. Orang ini narsistik atau jenius? Apa maksudnya? Kemanakah arus hendak dia arahkan? Kembali ke Pilpres 2014. Tahun 2014 menjelang pilpres saya termenung-menung, milih yang mana ya? Ketika akhirnya menentukan pilihan, saya masih juga termangu. Kegalauan ini seolah menjelma dalam skala yang lebih luas dengan terbelahnya masyarakat dalam pilpres 2014 lalu. Ya. Te...