Skip to main content

Dekatkan Dahimu, Maryam..

Ya.. dekatkanlah kepadaku
Ada sekuntum mawar putih di dalam hatiku
yang ingin kusematkan di dekatnya

Betapa manisnya cinta
bila mawar itu gemetar menahan malu
(Gibran)

Puisi di atas adalah bagian dari surat Gibran kepada  May Ziadah. Penggalan surat ini pula yang membuka perkenalan saya dengan sastrawan dari Libanon ini.

Ada sesuatu dalam syairnya. Sederhana namun berbunga. Mengalir tapi mengendap. Tuangan kata-katanya mencerminkan pandangannya tentang dunia. Suram. Lebih kepada gambaran suatu citra yang kurang pencahayaan. Kira-kira setara dengan suasana mendung pertama musim penghujan.

Dan sepertinya saya memang harus selalu terpikat sastrawan Far East. Demikian pula kedemenan saya akan Queen. Tema lagu-lagu Queen, ibarat bandhwidth telpon seluler, lebar! Dalam. Evergreen. Dan sebagian besarnya buah karya Fredie Mercury, sang vokalis, yang keturunan Persia.

Talenta Fredie memang luar biasa. Dia seperti gampang saja menyusun syair. Seakan kata-kata mengapung di udara, dan dia tinggal memetik lalu merangkainya. Fredie jugaprima dalam olah vokal. Hampir semua karakter vokal pernah dia bawakan.Jazz, Rock, Pop, Ballad, R&B, Punk, Seriosa, dsb. Sebegitu dominannya Fredie, maka bisa dibilang Queen adalah Fredie.

Ketika dia mati tahun 1990, Queen langsung kolaps. George Michael pernah mencoba hendak masuk menggantikannya, namun entah kenapa tiba-tiba mundur (minder?). Akhirnya Fredie tak tergantikan. Queen koma.

Simbiosis Queen-Fredie mirip dengan simbiosis Dewa-Dhani. Kayaknya gak mungkin membayangkan Dewa tanpa Dhani. Betul, nggak? (sekedar cat. Dhani memang gandrung banget sama Queen).

Pengin rasakan sengatan pesona Queen? Simak saja lagu Queen pertama saya yang bikin kesengsem, Bohemian Rhapsody. Diproduksi tahun 1975, BR menggabungkan unsur rock, choir, classsic, ballad. Lirik BR menggambarkan sisi tragis kehidupan manusia dalam kemasan kata-kata yang mumpuni. Dan disempurnakanoleh penggarapan Fredie Mercury yang perfeksionis. Dengan proses editing mencapai 200-an kali take, menjadikannya lagu non-classic termegah yang pernah saya dengar.

Comments

Popular posts from this blog

Nasyid SWARA BHUMI STPN Yogyakarta: sebuah catatan perjalanan

Background Alhamdulillah wa sholaatu ala Rasulillah Berawal di penghujung tahun 2013, ketika saya memulai jalan panjang di program S-3 Ilmu Teknik Geomatika, Departemen Teknik Geodesi UGM. Muncul gagasan-gagasan yang berkesinambungan dengan obrolan via telepon dengan Pak Mardianto (STPN 1998) dan Pak Jusvan (STPN 1998). Gagasan untuk re-mastering lagu-lagu nasyid Swara Bhumi. Langkah awal mesti diambil. Inventarisasi rekaman analog yang tersisa dari perjalanan sejarah SWAMI (1999 sd 2002) merupakan langkah awal yang baik. Setelah dodos-dodos (apa ya bahasa Indonesianya), ditemukanlah 2 kaset. Berbekal 2 kaset kompilasi SWAMI itu, yang merekam peristiwa-peristiwa: rekaman di Radio Arma 11, Live Performance di Brebes dan rekaman di Studio Retjo Buntung (album kolaborasi Swami, Justice Voice dan ust Fauzil Adhim: Agar Cinta Bersemi Indah “ACBI”), dimulailah proyek digitalisasi lagu-lagu SWAMI. Bersyukur, gayung bersambut. Pak Trisno (STPN 1998) dan Pak Sugiyanto (STPN 1998) berkenan menja...

Perjalanan Master Tesis

Memang tidak mudah menyusun karya tulis. Apalagi selevel tesis, yang menurut beberapa opini yang saya dengar, inilah level belajar meneliti. Kemarin dulu di level skripsi, belajar menulis. Nah yang bener-bener menulis dan meneliti ya nanti di level disertasi. Saya tidak hendak mengeluh. Saya hendak bercerita. Simak.

Pilpres 2014 dan 2019: perspektif metaforik

Pilpres 2014, bagi saya, adalah pengalaman sejarah negara yang ajaib dalam perspektif pribadi saya. Bagaimana tidak, nama lengkap saya dalam 2 kata terakhirnya mirip dengan nama Pak Joko Widodo (Jkw). Nama lengkap saya FCM Djoko Widodo. Asli, ini tidak ngarang. Itu satu fakta. Fakta lainnya, saya lahir di tanggal dan bulan yang sama dengan Pak Prabowo Subianto (PS). Sejak tahu fakta itu, saya jadi tertarik dengan rekam jejak PS. Saya mulai intens mengikuti perjalanan hidupnya yang ditulis dalam berbagai artikel media massa dan buku-buku biografi tokoh-tokoh penting. Ketika PS intens beriklan, jauh sebelum pilpres 2014, saya heran. Orang ini narsistik atau jenius? Apa maksudnya? Kemanakah arus hendak dia arahkan? Kembali ke Pilpres 2014. Tahun 2014 menjelang pilpres saya termenung-menung, milih yang mana ya? Ketika akhirnya menentukan pilihan, saya masih juga termangu. Kegalauan ini seolah menjelma dalam skala yang lebih luas dengan terbelahnya masyarakat dalam pilpres 2014 lalu. Ya. Te...