Background
Alhamdulillah wa sholaatu ala Rasulillah
Berawal di penghujung tahun 2013, ketika saya memulai jalan panjang di program S-3 Ilmu Teknik Geomatika, Departemen Teknik Geodesi UGM. Muncul gagasan-gagasan yang berkesinambungan dengan obrolan via telepon dengan Pak Mardianto (STPN 1998) dan Pak Jusvan (STPN 1998). Gagasan untuk re-mastering lagu-lagu nasyid Swara Bhumi.
Langkah awal mesti diambil. Inventarisasi rekaman analog yang tersisa dari perjalanan sejarah SWAMI (1999 sd 2002) merupakan langkah awal yang baik. Setelah dodos-dodos (apa ya bahasa Indonesianya), ditemukanlah 2 kaset. Berbekal 2 kaset kompilasi SWAMI itu, yang merekam peristiwa-peristiwa: rekaman di Radio Arma 11, Live Performance di Brebes dan rekaman di Studio Retjo Buntung (album kolaborasi Swami, Justice Voice dan ust Fauzil Adhim: Agar Cinta Bersemi Indah “ACBI”), dimulailah proyek digitalisasi lagu-lagu SWAMI.
Bersyukur, gayung bersambut. Pak Trisno (STPN 1998) dan Pak Sugiyanto (STPN 1998) berkenan menjadi produser (alias pemodal). Tak lupa jasa mantan manajer, Pak Mansur Fahmi (STPN 1997), yang memfasilitasi komunikasi (kompor). Tanpa mediasi yang canggih, proyek ini mustahil terwujud.
Semangat makin menghangat setelah reuni tahun 2014. Proyek ini dikerjakan sembari sibuk nulis kerangka draft disertasi. Akhirnya kelar sekitar akhir Mei 2016 (proyek ini, bukan disertasinya..). Proses digitalisasi dibantu mas Teguh JP, seniman bertalenta asal Semarang. Mozaiking foto dan edit film dibantu mas Arie IKARI-08. Jadilah daftar file mp3 dan video kompilasi (link youtube ada di akhir tulisan ini).
Masih segar dalam ingatan, kurang lebih 3 bulan setelah upload film ini, saya masuk rumah sakit. Kena typus. Istri juga bersamaan kambuh maag-nya. Sekamar di RS Permata Medika Semarang. Episode ini, bagian dari episode-episode "keajaiban S-3", yang mengawali perkenalan saya dengan parkinsonism: tremor, vertigo dan bradikinetik.
Video di akhir bagian tulisan ini adalah salah satu hasil dari proyek digitalisasi Album SWAMI. Semoga, sesuai dengan niat awalnya, mampu memicu proyek-proyek lain dalam kerangka re-mastering dan reuni akbar eks UKMI Darunnajah.
Beberapa Definisi
Nasyid secara harfiah berarti senandung. Dalam perjalanannya kemudian arti nasyid bergeser menjadi seni musik akapela bernuansa religi. Nasyid dikenali dari ciri khasnya menggunakan suara manusia menggantikan alat musik konvensional (gitar, piano, bass, drum, dll). Beberapa tim nasyid melengkapi diri dengan tambahan alat perkusi (marakes, jimbe, bongo, conga, rebana, dll).
Embrio nasyid sebenarnya telah cukup lama tumbuh di tanah air. Dipicu semangat beragama yang lahir dari kajian-kajian Islami di berbagai perguruan tinggi. Hingga tahun 1995-an sudah bisa ditemukan di pasaran kaset-kaset rekaman (saat itu mp3 belum populer) dari tim-tim nasyid Indonesia. Snada menelurkan album perdananya tahun 1994. Izzatul Islam menyusul di tahun yang sama. Keduanya adalah tim nasyid bentukan mahasiswa Universitas Indonesia.
Berbagai tim nasyid lain kemudian mulai menjamur di berbagai kota sentra pendidikan, seperti: Yogya, Bogor, Bandung, Semarang dan lain-lain. Di tengah eforia nasyid saat itu, lahirlah Swara Bhumi dari rahim Unit Kegiatan Mahasiswa Islam (UKMI) Darunnajah di Sekolah Tinggi Pertanahan Nasional (STPN) Yogyakarta.
Kelahiran dan Awal Perjuangan
Swara Bhumi (Swami) lahir di tengah riuh kegiatan kemahasiswaan di Sekolah Tinggi Pertanahan Nasional (STPN) Yogyakarta. Ibu kandungnya adalah UKMI Darunnajah. Kelahirannya dibidani senior-senior di UKMI, sebut saja: Mansur Fahmi, Hallilintar Agistany, Rury Irawan, Hamim Mudayana, Agus Prajitno dan lain-lain. Aliran mazhab seninya sempat diperdebatkan. Menaikkan suhu di lingkungan UKMI Darunnajah. Hingga kesepakatan pun dicapai, yakni islah seni musik Islam di lingkungan STPN.
Islah tersebut melahirkan sebuah Tim Nasyid STPN (yang bermazhab modernis: akapela plus) dan Tim Hadroh STPN (bermazhab tradisionalis). Keduanya mulus bersinergi menyemarakkan syiar Islam di lingkungan kampus STPN. Islah dimudahkan dengan adanya fakta bahwa anggota tim dan alat perkusi saling pinjam di antara kedua grup seni musik tersebut :-) .
Bulan Desember Tahun 1999 Swami, yang kala itu masih bernama Tim Nasyid Darunnajah STPN, mengikuti lomba nasyid se-Yogyakarta yang diadakan oleh Fakultas Pertanian UGM dalam rangkaian kegiatan bulan Ramadhan. Lomba diikuti secara diam-diam, alasannya menurut Jusvantriadi:"... malu sama teman-teman kampus kalau sampai kalah...". Sudah yakin menang.
Shodaqta antum, yaa akhii... Benarlah keyakinan beliau, lagu “Pagi Ramadhan” milik Snada mengantarkan tim Nasyid Darunnajah memenangi lomba tersebut. Sebagai hadiahnya, selain trophy, piagam dan uang pembinaan, tim pemenang berhak tampil bareng Emha Ainun Nadjib pada acara puncaj Nuzulul Qur’an Fakultas Pertanian UGM. Debut yang teramat manis untuk dikenang.

Ketika undangan tampil mulai membanjir, terpikirlah untuk memilih sebuah nama yang simpel dan mudah diingat. Nama yang komersil, begitu kira-kira istilahnya. Nama Swami pun dipilih. Swami singkatan dari SWARA BHUMI. Bolehlah diambil makna bahwa tim ini ingin mem-bumi-kan “suara langit” melalui seni Islami. Kebetulan juga anggotanya para PNS yang sehari-harinya mengurus tanah (bhumi), dan (nggak) kebetulan juga sama dengan nama grup yang sudah duluan kondang milik Iwan Fals.
Mazhab Bermusik
Mazhab bermusik Swami mengikuti model Snada. Ciri khasnya adalah adanya paduan suara yang diperkaya dengan iringan perkusi. Paduan suara mengandalkan harmonisasi suara satu, dua dan tiga. Ragam pukulan perkusi diperkaya oleh latar belakang budaya tim perkusi, yakni: Jawa (hadroh/rebana), Aceh, Makassar dan Sunda.
Pengarah teknis paduan suara adalah Jusvantriadi Munawar. Kemampuan Jusvan dalam mengatur harmonisasi suara dibuktikannya dengan meraih simpati dewan juri festival nasyid. Belakangan Jusvan lebih banyak menghabiskan waktu dengan tim nasyid barunya: Justice Voice (JV). Ya, JV yang kondang itu adalah yunior Swami! Masya Allah ... :-)
Pengarah teknis perkusi menjadi tugas Fahmi Haris (FCM). Sebagai komandan hadroh (rebana) di Semarang, kemampuan pengaturan ragam dan ritme perkusinya cukup mumpuni. Show kolaborasi perkusi Swami dan JV pada tahun 2003 di Taman Pancasila Sakti Malioboro menjadi bukti performance yang sukses dibidaninya bersama tim perkusi Swami (mahasiswa STPN 2000: Hatta Firmansyah, Herwandi, Imam Buchori dan Anwar Sidora).
Tim Nasyid dan Official
Personel Swami sangat dinamis. Anggotanya berganti sesuai kebutuhan dan ketersediaan. Swami versi awal beranggotakan: Jusvan, Ceto Subagyo, Hery Syamsul Bahri, Mardianto, Arham Safa, Djohansyah dan Fahmi Haris. Dalam latihan berikutnya mulai bergabung Sutrisno. Belakangan ada nama Langlang Tresna Permagati dan Muksin yang ikut bergabung dalam beberapa performance. Mari langsung saja membedah siapa-siapa saja di balik brand Swara Bhumi:
Jusvantriadi Munawar, STPN 1998, utusan Sulawesi Tengah (Sulteng) ini merupakan aranser yang lihai. Kepiawaian manajerial musikalnya membuatnya kemudian “dibajak” oleh tim nasyid lain. Namun demikian, loyalitas Jusvan, demikian dia dipanggil, terhadap almamaternya STPN membuatnya siap sedia manakala Swami membutuhkannya. Kata-katanya yang paling diingat saat awal-awal bernasyid, “saya tidak butuh suara bagus, saya butuh orang-orang yang mau berlatih”. Mungkin dia penggemar Sir Alex Fergusson.
Satu lagi, Jusvan paling bisa membangkitkan percaya diri anggota Swami. Entah ukurannya darimana, kata-katanya yang cukup mujarab: “..kalau ada 5 (lima) grup nasyid terbaik di Jogja, maka Swami salah satunya..”. Aamiin.
Ceto Subagyo, STPN 1998, utusan DKI Jakarta, merupakan vokalis utama. Suaranya empuk bercengkok natural. Kabarnya sempat menyabet juara I dalam lomba karaoke di asrama STPN belasan tahun silam dengan mengandalkan lagu lawas bertitel “Kutu” (kutuliskan lagu ini...). Lagu-lagu sendu akan pas dibawakannya, termasuk dangdut, keroncong, pop, dll. Singkatnya lagu yang menguras air mata.
Dari semuanya, “Dambaan Cinta” milik Raihan lah lagu yang paling dijiwainya. Saat-saat perpisahan di penampilan terakhir Swami, lagu tersebut dibawakannya dengan sangat apik, sendu, menyentuh, haru. Gedung kembar kampus Universitas Muhammadiyah Yogyakarta (UMY) seakan kuncup mengharu biru. Sebelum tampil pun, kadang para anggota Swami sudah terharu lebih dulu dengan ancamannya yang lebih bahaya daripada ancaman bom: “nyanyikan lagu ini atau saya pulang”.
Sutrisno, STPN 1998, utusan DKI Jakarta, meski tidak katut ketika Swami eksis pertama kali namun perannya kemudian hari tidak bisa disepelekan. Trisno DKI, panggilan akrabnya (mesti diberi penanda "DKI", mengingat bejibunnya nama Trisno di muka bumi ini), rajin dan telaten dalam hal-hal yang berkaitan dengan catat-mencatat. Dari soal lirik lagu sampai jadwal pentas merupakan domainnya. Tidak heran jabatannya di UKMI waktu itu adalah Sekretaris Umum. Yang mana kariernya di kemudian hari pun dalam setiap kepanitiaan umumnya sekretaris. Dalam tiap aksi panggung Swami, Trisno sering didapuk suara 2 dan suara-suara rendah. Sikapnya yang kalem, lembut, dan bersahabat, mampu mengikat Swami dan para penggemarnya. Islah antara tim Hadrah dan tim Nasyid adalah buah tangannya (ini ada ceritanya sendiri, cerita dong Triss....).
Hery Syamsul Bahri, STPN 1998, utusan Jawa Tengah, adalah orang asli Brebes. Suaranya yang melengking sedang, sehingga Jusvan sering menjatahnya suara 3. Suara 3 itu maksudnya bila vokal utama bernada 1 (do), maka Hery mesti meneriakkan nada 5 (sol), atau sebaliknya. Begitulah, kadang lehernya meski memanjang miring untuk mengejar nada yang tinggi. Beberapa kali suara 3 nya ini dipinjam tim nasyid Justice Voice.
Pengetahuan musik dan nadanya terbilang lumayan setelah Jusvan. Sikapnya yang easy going (mudah pergi xixixi) mampu meredakan ketegangan sebelum tampil. Yah, dia anggota yang sangat menyenangkan, apalagi kalau sudah bawa telur asin khas Brebes...I love u fullll....
Mardianto, STPN 1998, utusan Sulawesi Tengah, keturunan Jawa namun lahir, besar dan berbudaya khas Sulteng. Kalem namun keras. Perannya di Swami seringkali sebagai konsolidator tim, kadang lebih mirip manajer bayangan. Mottonya: menyatukan yang terserak...(kayak motto tukang sapu, ya...?)
Jatah suaranya di dalam konstelasi akapela hanya Jusvan dan Tuhan yang tahu. Pun begitu, teman-teman Swami lebih sering memergokinya menyuarakan “cing-cing” dalam beberapa performance Swami. Di tangannya jarang absen perkusi, entah namanya apa, yang jelas terbuat dari 2 (dua) wadah bekas minuman Yakult yang dilem jadi satu dan diisi pasir (atau beras?). Pas dimainkan suaranya mirip ular derik yang lagi marah.
Fahmi Haris, STPN 1999, utusan Jawa Tengah, tugas utamanya mengatur perkusi, oleh karenanya dalam pembagian suara sering mendapat tugas menirukan suara bongo, kendang atau simbal. Tidak asing dengan irama rebana, di tempat asalnya, Semarang, Fahmi adalah komandan pasukan terbangan, sehingga terbiasa mengkoordinir teman-teman perkusi dalam jumlah besar sekalipun.
“Lebih baik nggak pake sound system dari pada ada tapi minim,” itu jadi prinsipnya. Ini yang bikin teman-teman Swami geleng-geleng kepala. Gara-gara keukeuh dengan prinsipnya, Fahmi pernah menolak tawaran mengiringi grup Snada hanya karena sound yang kurang maksimal di UC UGM Yogya. Snada booo...gile lu Mi... Inilah salah satu alasan mengapa kalau ada undangan untuk tampil, Swami selalu membawa mikropon tambahan. Jaga-jaga siapa tau tim perkusi nggak kebagian mic.
Fahmi dikenal rendah hati. Tidak merasa dirinya begitu penting. Saya itu apa, bukan siapa-sipa, katanya merendah menepis pujian (cieee merendah ninggiin mutu dan nilai jual, kata Hilman Lupus....). Itu juga yang jadi alasannya hingga paling sering terlambat datang saat latihan. Sudah begitu nggak merasa bersalah lagi. Tapi, kalau mengingat payahnya menggotong bedug kesana kemari, kemarahan malih rupa menjadi kasihan.
Arham Shafa, STPN 1998, utusan Sulawesi Tengah, dikenal pendiam dan nampak paling religius di antara para Swami. Kekhusyukan ibadahnya menular ke aktivitas bermusiknya. Dulunya gitaris handal, spesialis bass. Sudah tak mencabik lagi sejak mengenal seni Islami khususnya nasyid. Sesuai keahliannya, perannya di Swami adalah bassis. Caranya menirukan suara gitar bass demikian elok dan, pastinya, khusyuk.
Namun, Are, demikian panggilannya, lebih sering didapuk sebagai penabuh perkusi. Ragam pukulan perkusinya yang paling terkenal adalah formasi “cakar harimau”. Penikmat nasyid yang sempat memergokinya berperkusi pasti faham. Jurus cakar harimau memberi efek suara rebana yang unik. Menonjol ketika membawakan “Sabda Rasul”, yang sayangnya dokumentasi rekamannya tidak ditemukan. Di atas panggung, saat cakar menggebrak-gebrak, bibir terkatup rapat, mata memejam-mejam, Are yang pendiam berubah bak Indian memanggil hujan, mengenakan mahkota bulu, merapal mantera, menyatu dengan alam. Hingga ustadz Faudzil Adhim (penulis buku), menyampaikan ke kagumannya, “baru kali ini saya melihat antara vokalis dan tim perkusinya (bukan pemain dan perkusi yang dipukulnya ya?) sangat padu dan menyatu”
Djohansyah, STPN 1999, utusan Aceh, merupakan pribadi bertalenta serba bisa. Baik vokal maupun urusan perkusi, bahkan seni tari saman, bukanlah hal yang sulit baginya. Kawan diskusi mengenai perkusi yang mumpuni menemani Fahmi, Djohansyah mewarnai perkusi Swami sehingga berbeda dengan tim nasyid lain. Pun ketika Hery kewalahan dengan suara 3, maka Djohan adalah solusi. Kolaborasi dahsyat antara Swami dan grup tari Saman STPN di GOR Kridosono Yogyakarta adalah racikannya.
Namun Allah menjemputnya pada usia muda. Tsunami 26 Desember 2004 di Aceh dan sekitarnya, telah merenggutnya dari sisi orang-orang yang mencintainya. Teruntuk, almarhum Djohansyah, al-Fatihah....
Muksin, STPN 1999, utusan Sulawesi Tengah, pemain serba bisa. Bahkan jadi kiper atau penyerang pun pernah dilakoninya dengan baik. Intinya Muksin ini memang fungsinya mirip penyerang lubang dalam permainan bola. Bisa masuk ke posisi mana saja. Vokal ayok. Perkusi jadi. Yang pokok, bagi Fahmi Haris, Muksin adalah sejawat setia berbagi suka-duka memikul gong/bass.
Langlang, STPN 1998, utusan DKI Jakarta, bergabung di episode akhir Swami (tahun 2002). Perannya mulia. Penjaga ritme tim ketika manggung: pemukul gong. Dedikasi terhadap posisinya demikian tinggi, bahkan saputangan kesayangannya digunakan untuk tutup ujung pemukul gong. Langlang juga termasuk pahlawan dalam urusan pikul memikul gong/bass, bersama Muksin dan tentunya Fahmi Haris.
Mansur Fahmi, STPN 1997, putra Purbalingga utusan Jawa Tengah. Manajer awal Swami. Jadwal manggung, promosi, akomodasi, sampai honor adalah urusannya. Beliau bersama Halilintar adalah orang-orang yang berpayah-payah membesarkan Swami. Penuh ide dan terobosan-terobosan. Strateginya menjadikan sekretariat Justice Boys (grup nasyid yang duluan kondang) juga sebagai alamat pos Swami adalah ide yang sangat jitu.
Halilintar Agistany, STPN 1997, utusan Nusa Tenggara Barat. Termasuk salah satu manajer SWAMI, sahabat kental Mansur Fahmi (duet manajer). Penguat dan penyeimbang ide-ide Mansur Fahmi.
Sugiyanto, STPN 1998, utusan Kantor Pusat BPN-RI, Jakarta, sebagai manajer periode setelah duo Manajer Mansur Fahmi dan Halilintar. Di tangannya SWAMI mencapai fase keemasan. Dari manajerial klasik menuju manajerial modern. Kesadaran bahwa SWAMI telah tertentu usianya, sehingga segala kesempatan adalah “membuat sejarah”. Sedikit dikecap manis terasa seumur hayat. Rekaman, pengadaan seragam, lobi-lobi intensif, pers release kegiatan SWAMI adalah tapak-tapak sejarah yang dibuatnya. Jangan lupa, itu semua didukung penuh motor GL-Pro nya.

Kesan dan pesan sahabat
Lahirnya Swami adalah wujud bersatunya rasa dan nada benih benih berbakat dari penjuru negeri. Lantunan nasyidnya menghanyutkan jiwa dan setiap tampilannya memukau mata mengajak diri ‘tuk bercinta dengan sang Pencipta dan utusan-Nya. Wahai Swami walau aku tak ikut serta namun hati tetap terbawa. Meskipun nasyidmu sekian lama terserakan antara jarak dan waktu, kami berharap suaramu kan menggema di suatu masa memanggil jiwa nan rindu untuk bersuwa bersama sama. Semoga memorial kumpulan nasyid Swami ini dapat mengingatkan kembali perjuangan dakwah di UKMI Darunnajah STPN Yogyakarta untuk kita jadikan sarana muhasabah dalam rangka membentuk kesholihan diri di setiap langkah kehidupan kita. Semoga Allah SWT meridhoi. Amiin.
Agus Prajitno, S.Si.T., M.Eng. Komandan Urdisdal STPN 1999-2000, Manajer Tim Hadroh STPN 1998-2002, Eks Dosen STPN dan Staf Kanwil BPN Kaltim, kini Dosen UIN Samarinda Kaltim).
Masya Alloh …. tulisan yang menggetarkan. Kok bisa masih ingat yah.. Terima kasih, Mas, walau cuman ditampangin nama doank udah seneng banget! Bahwa ada sejarah yang pernah saya lewati bersama senior dlm “menebar menebar dakwah menjalin ukuwah” bersama UKMI Darunnajah, lewat media Nasyid. Semoga bisa bangkit lagi kesuksesan SWAMI STPN. Aamiin YRA.
(Imam Buchori, S.Si.T., Kasi di BPN Merauke)
Assalamu’alaikum… Membaca tulisan ini, serasa berada dalam auditorium dimana tampak panggung, mc dan para nasyider plus perkusinya. Ingin melihat penampilan itu sekali lagi. Amien.
(Anwar Sidora, S.Si.T., Kasi di BPN Kab. Poso)
Assalamu’alaikum Sobat. Membaca tulisan mu, sangat bagus dan lengkap. Saya merasa bangga pernah tampil bersama Swami dan juga besar dilingkungan org2 hebat di ukmi darunnajah STPN. Ingat alm sedih, sdh takdir apa yg dialami saudara kita Djohansyah. Secara umum sangat bagus bila Swami berkarya lg. Wslmkm.
(Arinaldi, S.Si.T., M.M., Kasi IP Kantor Pertanahan Kota Banda Aceh, NAD.)
Sangat membanggakan !!!
(Agustyarsyah, S.Si.T., M.H., Kepala Kantor Pertanahan Kab. Bogor, Jawa Barat)
Tulisannya bagus, komunikatif. Perjalanan hidup yang penuh makna dan pastinya sangat berkesan bagi anggota dan official SWAMI. Semoga tetap terjaga tali silaturahmi. Syukur2 bisa reuni tampil lagi.
(Herni Mujiana, S.Si.T., Kasubag di Biro Orpeg BPN)
Saat-saat yg luar biasa. Kalau mau dipikir kita kan PNS (yg terhormat), tp mau juga kesana kemari gotong beduk, kehujanan, haha hehe bareng para munsyid muda (di antara para munsyid kayaknya kita yg anggotanya tertua). Makanya seringnya kita dipanggil “pak” dari pada “mas”. SWAMI adalah bagian dari UKMI Darunnajah yang berprinsip dakwah “menebar dakwah menjalin ukhuwah” melalui seni. Olehnya, dakwah adalah utama, adapun “upah”, seikhlasnya, barter “belut goreng tepung” pun oke…
(Mardianto, S.Si.T., Kasi di Kanwil BPN Sulteng)
Demi untuk tampil menggenapi rindu penggemar SWAMI, temen2 satu kelas rela di strap 2 SKS oleh salah seorang dosen.
(Ceto Subagyo, S.Si.T., M.M., Kasubag di Biro Umum BPN)
Kenangan terindah kala menjadi bagian di Team Nasyid “SWAMI” STPN. Banyak hal2 positif yg secara pribadi saya dpt disana, meskipun beban terlalu berat (mikul-mikul percusi….wkwkwk). Yg pasti kerinduan tuk tampil bersama lg selalu ada & harapan itu ttp ada…terima kasih saudaraku (FCM) telah membuat ini sebagai obat kangen sementara waktu…
(Muksin, S.Si.T., M.M., Kasi di BPN Sulteng)
Membaca tulisan ini kembali mengingatkanku masa-masa indah saat masih bersama di Swami. Semua serba otodidak ( kecuali Mas Fahmi Haris telah dibekali teori perkusi yg kompleks). Tapi bermodal semangat dan keyakinan, Swami bisa bisa dikenal sebagai salah satu pionir masyid yogyakarta yang bisa memenuhi harapan para penikmat musik islami saat itu. Tentunya juga bermodal keberanian. Berani absen kuliah demi tampil, hehee. Makasih buat mas Fahmi Haris. Tulisannya serius, lucu, tapi realistis, hehee. Btw, inget motor nya Ulin Nuha yang sering kita pinjam..? Yang penting ada uang bensin, isi 500 rupiah/setengah liter sudah cukup untuk sekali tampil, hahaa..
(Jusvan Triadi, S.Si.T., Kasi di BPN Sulteng)
Penutup
Proyek kecil ini dikerjakan semenjak awal tahun 2014 di sela-sela menysusun proposal disertasi di Departemen Teknik Geodesi UGM Yogyakarta. Oleh sebab itu akan banyak ditemui kekurangan-kekurangan di sana-sini. Hal ini direncanakan akan diperbaiki sesuai masukan sahabat-sahabat semua.

Ucapan terima kasih disampaikan kepada para pihak yang telah dengan tulus memberi dukungan moril maupun materiil. Semoga usaha kita bersama dalam rangka syiar Islam ini mendapat ridlo Allah SWT.
Mohon kiranya berkenan menambahkan kesan dan pesan di kolom komentar di bawah ini. Secara berkala, bagian "Kesan Pesan Sahabat" akan kami update sesuai kolom komentar.
[youtube https://www.youtube.com/watch?v=UzvT7BhPYeY]
SWAMI adalah bagian dari UKMI Darunnajah yang berprinsip dakwah "menebar dakwah menjalin ukhuwah" melalui seni. Olehnya, dakwah adalah utma, adapun "upah", seikhlasnya dan tak harus "rupiah", barter "belut goreng tepung" pun oke...
ReplyDeleteHahaha, ini gara2 pak Mansur Fahmi..."seikhlasnya..."
ReplyDeleteYang penting ada uang bensin. Ingat motornya Ulin Nuha, isi 500 rupiah/setengah liter sudah cukup untuk sekali tampil, hahaa
ReplyDeleteMembaca tulisan ini kembali mengingatkanku masa-masa indah saat masih bersama di Swami. Semua serba otodidak ( kecuali Mas Fahmi Haris telah dibekali teori perkusi yg kompleks). Tapi bermodal semangat dan keyakinan, Swami bisa bisa dikenal sebagai salah satu pionir masyid yogyakarta yang bisa memenuhi harapan para penikmat musik islami saat itu. Tentunya juga bermodal keberanian. Berani absen kuliah demi tampil, hehee
ReplyDeleteMakasih buat mas Fahmi Haris. Tulisannya serius, lucu, tapi realistis, hehee
Mike yg sering dibawa saat tapil, itu punya masjid yah...?
ReplyDeleteIya. Kita ga pernah byr sewanya hihi
ReplyDeleteMotor2 yg berjasa: motore pak ulin, motore pak agus, motore mbk iin, motore pak sugi dll
ReplyDeleteThks bro. JV tanpa antum, hampaaaa...
ReplyDeleteKenangan terindah kala menjadi bagian di Team Nasyid "SWAMI" STPN. Banyak hal2 positif yg secara pribadi saya dpt disana, meskipun beban terlalu berat (mikul-mikul percusi....wkwkwk). Yg pasti kerinduan tuk tampil bersama lg selalu ada & harapan itu ttp ada...terima kasih saudaraku (fcm) telah membuat ini sebagai obat kangen sementara waktu...
ReplyDeleteHahaha "beban terlalu berat".. Uchin my bro thks....
ReplyDeletedemi untuk tampil menghadiri penggemar yang sudah sangat merindukan SWAMI, temen2 satu kelas rela di strap 2 sks oleh salah seorang dosen
ReplyDeleteIya sy akui swami byk dibantu angkt 1998. Thks kaka tika ....
ReplyDeleteSaat-saat yg luar biasa. Kalau mau dipikir kita kan PNS (yg terhormat), tp mau juga kesana kemari gotong beduk, kehujanan, haha hehe bareng para munsyid muda (di antara para munsyid kayaknya kita yg anggotanya tertua). Makanya seringnya kita dipanggil "pak" dari pada "mas".
ReplyDeleteTulisannya 👍, komunikatif. Perjalanan hidup yang penuh makna dan pastinya sangat berkesan bagi anggota dan official SWAMI. Semoga tetap terjaga tali silaturahmi. Syukur2 bisa reuni tampil lagi 😊🙏🙏
ReplyDeleteTrmksh ibu Herni.... Salam utk keluarga smga sehat berkah selalu.
ReplyDeleteShohih ustadz. Indeed. Tp krn pns pula mk para akhwat beda bgt responnya, seolah berkata.: Inikah swamiku kelak.,....,? (Pns tp pd jomblo semuwa)
ReplyDeleteSangat membanggakan
ReplyDeleteTerimakasih Abangda Agustyarsyah berkenan mampir...
ReplyDeleteAslmkm sobat,
ReplyDeleteMembaca tulisan mu, sangat bagus dan lengkap. Saya merasa bangga pernah tampil bersama Swami dan juga besar dilingkungan org2 hebat di ukmi darunnajah STPN. Ingat alm sedih, sdh takdir apa yg dialami saudara kita Djohansyah.
Secara umum sangat bagus bila Swami berkarya lg. Wslmkm.
Kita prnh kolaborasi ya di Kridosono. Audien histeris ketika tari sama dimainkan. Dimuat di koran KR saat itu. Kami jg bangga bro. Thks komennya.
ReplyDeleteAssalamualaikum.
ReplyDeleteMembaca tulisan ini, serasa berada dalam auditorium dimana tampak panggung, mc, dan para nasyider" plus perkusinya☺. Ingin melihat penampilan itu sekali lagi. Amien
Jangan ingin melihat, bung Anwar, tapi ikut terlibat sepanggung bareng seperti wkt kolaborasi di Unwama dan Malioboro. Hehe.... Ayok reuni sambil remastering album...
ReplyDeleteMasya Alloh.. tulisan yang cukup berani nih.. kok bisa masih diingat yah.. makasih loh mas.. walau cuman ditampangin nama doank udah seneng banget.. bahwa ada sejarah yang pernah aqu lewati bersama senior dlm "menebar menebar dakwah menjalin ukuwah" bersama UKMI Darunnajah.. lewat media Nasyid.. smoga bisa bangkit lagi kesuksesan "SWAMI STPN" Amiin..yra..
ReplyDeleteWalaupun tidak berada ditengah2 kejayaan swami, namun pesona swami memberi inspirasi bagi kami alumni DI Stpn angk.VII untuk membentuk tim nasyid Al Fajr, dibina oleh bang Heri mulyanto D IV utusan aceh, semoga ada swami reborn untuk kembali menggelorakan syiar lewat syair yg terlantun indah..
ReplyDeleteSubhanallah. Mas Heri mmg bertalenta luar biyasa. . klo mas Fery ada cerita/dokumentasi monggo dishare ke saya biar kita susun jd satu mozaik2 indah ini.. sehingga jd penyemangat di masa dpn utk adik2 kita. ....
ReplyDeletepikranku menerawang jauh ke masa silam, ya..kampusku, semua yg di tuliskan membangkitkan reaksi kagumku pada sahabatku, secara detil mampu di munculkan seolah sebuah pilem (tulis saja begitu) berputar perlahan mengembalikan aku ke masa dulu, ya..saat itu aku sdh tdk begitu aktif namun mengikuti setiap gerak dan peran teman2ku, khususnya dari satu utusanku (NAD), thanks sobat,tulisanmu membuatku seketika hijrah ke waktu yg lampau#salutdg daya ingat candidat Doktor
ReplyDeleteTerimakasih sdh mampir Ce Mus.
ReplyDeleteSaya merinding membacanya..
ReplyDeleteAl Fatihah untuk Kakak Iparku Mas Djohan Syah, Kakakku Syinta Dewi, dan keponakanku tercinta Jihan Qotrunada Syinta Asyifa
Semoga kel mbk Syinta Ningrum diberi ketabahan dan kesabaran. Thn 2017 sy berkunjung ke Banda Aceh. Sdh lama sy ingin berziarah. Nmn krn wkt mepet cm sehari semalam mk niat utk ziarah ke Masjid Baiturrahman ditunda. Kami nginap di hotel dkt pelabuhan. Ndilalah, mnrt ket kawan dr Aceh, hotel tempat sy nginap bersama kel itu dulunya adalah semacam RS atau klinik tempat istri mas Djohan bekerja. Dan diketahui di situlah terakhir Djohan terlihat, bs jd jemput istri. Subhanallah ... Btp luar biasa takdir membawa sy benar2 menziarahi sohibku, Djohan. Al Fatihahhh....
ReplyDeleteAamiin yaa rabbal'alamin
ReplyDelete