Skip to main content

Buntil dan cara memasaknya

Prolog
Buntil adalah makanan khas Jawa berbahan daun Talas (Jawa: godhong Lumbu) yang dikukus dengan bumbu-bumbu rempah, parutan kelapa muda dan ikan teri. Daun Talas tersebut dibentuk sedemikian rupa sehingga membungkus campuran bumbu rempah, ikan teri dan parutan kelapa muda.

Mbah putri alm, selalu membelikan buat kami bawa ke Semarang. Dulu sewaktu saya kuliah di Yogya, sering juga dibawain. Teman sekamar di asrama sangat suka. Satu rantang ludes nda sampai 2 hari.



Buntil bisa dimakan setelah ditanak ulang agar hangat, namun keluarga saya biasa merebusnya dengan bumbu santan plus cabe setan. Sedap banget. Berikut resepnya.

Bahan
Buntil 5 buah. Buntil jumlahnya mengikuti kebutuhan. Setahu saya yang paling enak buatan orang Wonosobo yang jadi langganan almarhumah Simbah Putri di dekat SD Kauman.

Bumbu
1. Santan (bisa Kara ukuran kecil)
2. Bawang putih (3 siung kecil)
3. Bawang merah (3 siung)
4. Cabe setan (9 biji atau sesuai selera)
5. Cabe merah keriting (7 atau sesuai selera)
6. Garam (secukupnya)
7. Gula Jawa/merah (1/2 potong standar)
8. Daun Salam (1 lembar), bisa ditambah daun Serai dan daun Jeruk Purut
9. Laos (1 ruas)
10. Bawang goreng (sesuai selera).

Cara Memasak
1. Bawang putih, bawang merah, cabai ditumbuk halus kemudian digongso sampai harum.
2. Setelah itu berturut-turut masukkan daun salam dan laos.
3. Kemudian santan kara (yang telah diencerkan terlebih dahulu dengan segelas air matang).
4. Kemudian masukkan gula jawa.
5. Diikuti garam.
6. Biarkan hingga mendidih, masukkan buntilnya.
7. Kemudian dimasak sampe kuah agak surut / mengental dengan ditambahi cabe setan utuh sesuai selera.
8. Hidangkan dengan taburan bawang goreng dan sebakul nasi hangat.

Comments

Popular posts from this blog

Nasyid SWARA BHUMI STPN Yogyakarta: sebuah catatan perjalanan

Background Alhamdulillah wa sholaatu ala Rasulillah Berawal di penghujung tahun 2013, ketika saya memulai jalan panjang di program S-3 Ilmu Teknik Geomatika, Departemen Teknik Geodesi UGM. Muncul gagasan-gagasan yang berkesinambungan dengan obrolan via telepon dengan Pak Mardianto (STPN 1998) dan Pak Jusvan (STPN 1998). Gagasan untuk re-mastering lagu-lagu nasyid Swara Bhumi. Langkah awal mesti diambil. Inventarisasi rekaman analog yang tersisa dari perjalanan sejarah SWAMI (1999 sd 2002) merupakan langkah awal yang baik. Setelah dodos-dodos (apa ya bahasa Indonesianya), ditemukanlah 2 kaset. Berbekal 2 kaset kompilasi SWAMI itu, yang merekam peristiwa-peristiwa: rekaman di Radio Arma 11, Live Performance di Brebes dan rekaman di Studio Retjo Buntung (album kolaborasi Swami, Justice Voice dan ust Fauzil Adhim: Agar Cinta Bersemi Indah “ACBI”), dimulailah proyek digitalisasi lagu-lagu SWAMI. Bersyukur, gayung bersambut. Pak Trisno (STPN 1998) dan Pak Sugiyanto (STPN 1998) berkenan menja...

Perjalanan Master Tesis

Memang tidak mudah menyusun karya tulis. Apalagi selevel tesis, yang menurut beberapa opini yang saya dengar, inilah level belajar meneliti. Kemarin dulu di level skripsi, belajar menulis. Nah yang bener-bener menulis dan meneliti ya nanti di level disertasi. Saya tidak hendak mengeluh. Saya hendak bercerita. Simak.

Pilpres 2014 dan 2019: perspektif metaforik

Pilpres 2014, bagi saya, adalah pengalaman sejarah negara yang ajaib dalam perspektif pribadi saya. Bagaimana tidak, nama lengkap saya dalam 2 kata terakhirnya mirip dengan nama Pak Joko Widodo (Jkw). Nama lengkap saya FCM Djoko Widodo. Asli, ini tidak ngarang. Itu satu fakta. Fakta lainnya, saya lahir di tanggal dan bulan yang sama dengan Pak Prabowo Subianto (PS). Sejak tahu fakta itu, saya jadi tertarik dengan rekam jejak PS. Saya mulai intens mengikuti perjalanan hidupnya yang ditulis dalam berbagai artikel media massa dan buku-buku biografi tokoh-tokoh penting. Ketika PS intens beriklan, jauh sebelum pilpres 2014, saya heran. Orang ini narsistik atau jenius? Apa maksudnya? Kemanakah arus hendak dia arahkan? Kembali ke Pilpres 2014. Tahun 2014 menjelang pilpres saya termenung-menung, milih yang mana ya? Ketika akhirnya menentukan pilihan, saya masih juga termangu. Kegalauan ini seolah menjelma dalam skala yang lebih luas dengan terbelahnya masyarakat dalam pilpres 2014 lalu. Ya. Te...