Dalam Qur’an terdapat istilah ulul albab yang artinya secara harfiah dalam bahasa Indonesia adalah orang yang berakal. Disebut dalam QS. Ali Imran (3:190), bahwa hanya orang-orang yang berakal yang dapat melihat dan meyakini kebesaran Allah. Sementara manifestasi dari kebesaran Allah dalam ayat tersebut digambarkan dalam fenomena-fenomena alam keseharian yakni penciptaan langit dan bumi serta pergiliran waktu siang dan malam.
Sehingga pra syarat menjadi orang yang berakal menurut hemat penulis bersandar pada ayat di atas dan ayat berikutnya (191) adalah mereka yang menguasai ilmu pengetahuan khususnya yang dapat menjelaskan fenomena penciptaan bumi, pergerakan dan karakter bintang dan planet-planet. Sebagaimana bisa dibaca dalam nukilan redaksi terjemahan bahasa Indonesia : ...dan mereka memikirkan tentang penciptaan langit dan bumi... Beberapa contoh ilmu tersebut di antaranya adalah ilmu astronomi, ilmu fisika dan lain sebagainya
Namun yang lebih utama juga memiliki hati yang bening sehingga mampu mengejawantahkan keilmuannya tersebut dalam tingkat pemahaman yang lebih tinggi dan mulia. Sebagaimana disebut dalam kalimat selanjutnya: ... seraya berkata:
“Ya Tuhan kami tidaklah Engkau menciptakan semua ini dengan sia-sia. Mahasuci Engkau dan lindungilah kami dari azab neraka”
Ayat-ayat selanjutnya adalah redaksi doa mereka, yang menurut hemat penulis bila disarikan merupakan definisi orang yang berakal (191-194) :
1. Meyakini adanya Allah.
2. Meyakini adanya hari pembalasan.
3. Hatinya condong kepada kebenaran.
4. Meyakini risalah yang dibawa Nabi dan RasulNya.
Posisi ulul albab di hadapan Allah merupakan bahasan yang paling pokok mengapa Qur’an menceritakan tentang mereka, yakni ketika doa mereka itu dikabulkan Allah (195):
"Sesungguhnya Aku tidak menyia-nyiakan amal orang yang beramal di antara kamu, baik laki-laki maupun perempuan, (karena) sebagian kamu adalah (keturunan) dari sebagian yang lain"
Fahmi Charish Mustofa
Comments
Post a Comment