Skip to main content

Nasi Goreng ala Mas Heru (Japaneese style, masak api besar singkat)

Prolog

Resep ini diajarkan oleh seorang sahabat, Mas Heru Ledok Tukangan Yogyakarta. Bertemu di kala saya sedang sekolah S-2 di UGM Yogyakarta tahun 2006 sd 2008. Kami tinggal sekompleks kos di daerah Kwarasan Nogotirto Sleman. Mas Heru adalah ex koki di sebuah rumah makan ala Jepang di Jakarta. Nasi goreng ala mas Heru ini menurut saya lebih mantap dari nasi goreng Pak Umar Salatiga (alm) yang pernah merajai seantero Perumnas Krapyak Semarang.

 

Bahan

  1. Nasi sepiring penuh (dimasak agak pera, nasi sebaiknya bersuhu ruang/tidak panas)

  2. Telur ayam/bebek

  3. Potongan ayam matang atau udang, sosis, bakso, dsbg (sesuai selera)


 

Bumbu

  1. Cabe, bawang merah, bawang putih, trasi, merica, onclang (sesuai selera)

  2. Ebi kering blender

  3. Penyedap rasa dan garam

  4. Kecap ikan (cap Matahari yang disarankan mas Heru, namun status kehalalannya tidak jelas)

  5. Kecap asin ABC

  6. Kecap manis Bango

  7. Tambahan: telor, potongan ayam, udang, sosis atau bakso.


 

Cara Memasak

  1. Cabe, bawang merah, bawang putih --- tumbuk halus --- tumis sampe harum --- sisihkan

  2. Bawang putih dikeprek --- tumis --- harum --- tambahkan telor atau tambahan lain (ayam, udang, dll)

  3. Masukkan ebi, kecap ikan, kecap asin, moto, merica, garam --- masukkan pula bumbu tumis

  4. Nasi masuk --- api besar

  5. Tambahkan kecap manis

  6. Aduk sampai matang dengan ciri nasinya sampai mletik dari wajan.

  7. Usahakan memasak dengan porsi secukupnya, karena kalau kebanyakan akan mengurangi masaknya nasi dan mengurangi cita rasa.


 

Catatan: 

  1. Setelah menumis bumbu, mesti disisihkan karena menghindari bumbu gosong (overcooked).

  2. Lebih enak menggoreng nasi seporsi demi seporsi.


 

Comments

Popular posts from this blog

Nasyid SWARA BHUMI STPN Yogyakarta: sebuah catatan perjalanan

Background Alhamdulillah wa sholaatu ala Rasulillah Berawal di penghujung tahun 2013, ketika saya memulai jalan panjang di program S-3 Ilmu Teknik Geomatika, Departemen Teknik Geodesi UGM. Muncul gagasan-gagasan yang berkesinambungan dengan obrolan via telepon dengan Pak Mardianto (STPN 1998) dan Pak Jusvan (STPN 1998). Gagasan untuk re-mastering lagu-lagu nasyid Swara Bhumi. Langkah awal mesti diambil. Inventarisasi rekaman analog yang tersisa dari perjalanan sejarah SWAMI (1999 sd 2002) merupakan langkah awal yang baik. Setelah dodos-dodos (apa ya bahasa Indonesianya), ditemukanlah 2 kaset. Berbekal 2 kaset kompilasi SWAMI itu, yang merekam peristiwa-peristiwa: rekaman di Radio Arma 11, Live Performance di Brebes dan rekaman di Studio Retjo Buntung (album kolaborasi Swami, Justice Voice dan ust Fauzil Adhim: Agar Cinta Bersemi Indah “ACBI”), dimulailah proyek digitalisasi lagu-lagu SWAMI. Bersyukur, gayung bersambut. Pak Trisno (STPN 1998) dan Pak Sugiyanto (STPN 1998) berkenan menja...

Perjalanan Master Tesis

Memang tidak mudah menyusun karya tulis. Apalagi selevel tesis, yang menurut beberapa opini yang saya dengar, inilah level belajar meneliti. Kemarin dulu di level skripsi, belajar menulis. Nah yang bener-bener menulis dan meneliti ya nanti di level disertasi. Saya tidak hendak mengeluh. Saya hendak bercerita. Simak.

Pilpres 2014 dan 2019: perspektif metaforik

Pilpres 2014, bagi saya, adalah pengalaman sejarah negara yang ajaib dalam perspektif pribadi saya. Bagaimana tidak, nama lengkap saya dalam 2 kata terakhirnya mirip dengan nama Pak Joko Widodo (Jkw). Nama lengkap saya FCM Djoko Widodo. Asli, ini tidak ngarang. Itu satu fakta. Fakta lainnya, saya lahir di tanggal dan bulan yang sama dengan Pak Prabowo Subianto (PS). Sejak tahu fakta itu, saya jadi tertarik dengan rekam jejak PS. Saya mulai intens mengikuti perjalanan hidupnya yang ditulis dalam berbagai artikel media massa dan buku-buku biografi tokoh-tokoh penting. Ketika PS intens beriklan, jauh sebelum pilpres 2014, saya heran. Orang ini narsistik atau jenius? Apa maksudnya? Kemanakah arus hendak dia arahkan? Kembali ke Pilpres 2014. Tahun 2014 menjelang pilpres saya termenung-menung, milih yang mana ya? Ketika akhirnya menentukan pilihan, saya masih juga termangu. Kegalauan ini seolah menjelma dalam skala yang lebih luas dengan terbelahnya masyarakat dalam pilpres 2014 lalu. Ya. Te...