Skip to main content

Kado 14

Hari ini, Jumat (ulang tahun Laily), sekitar jam setengah lima sore, aku mangkir dari acara PBB alasannya sakit ( O iyya , belum aku ceritain ya kalo aku kuliah lagi, terhitung mulai Agustus 1999 ini aku jadi mahasiswa STPN, ceritanya sambil jalan aja ya..). katanya sih sakit tapi kenyataannya saat ini aku tengah nongkrong di teras kamarku yang dilantai dua (Iic/13), menghadap ke pemandangan bebas. Jalan Titi Bumi di hadapanku. Ada sekitar 15-an rumah dalam jangkauan pandangku dan dua petak kecil sawah. Sepetak lagi tegalan bekas sawah yang ditanami kacang-kacangan.

Angin cukup semilir (sebetulnya angin tidak baik untuk kesehatanku saat ini), badan agak mendingan segernya setelah kelar ari mencuci dan mandi. (Saya ringkas saja ya sekitar keberangkatan saya ke STPN..) Saya berangkat tanggal 7 Agustus 1999. Malam sebelum keberangkatan saya adain sedikit acara perpisahan kecil-kecilan dengan temen-temen IKARI. Beberapa hari sebelumnya saya udah persiapan sebentuk kado ala kadarnya buat Laily, perhitungannya saya bakal tidak ada waktu di Yogya nanti. Kado itu saya titipkan ke seorang temen untuk dikirm sebelum tanggal 10Agustus 1999, biar nyampenya gak jauh-jauh dari tanggal 13.

Trus hari ini Laily ulang tahun. Kadonya dah nyampe belum ya? Pengen nelpon sekedar ngucapin selamat. Tapi agak ragu juga mengingat limitasi yang aku buat sendiri, takut kebablasan. Ah, Laily .. aku koq kangen ama suara kamu ya..

catatan :  masa-masa awal STPN cukup berat saya lewati, ada kontradiksi di dalam, slide-slide yang berganti-ganti antara mentari dan gemintang-rembulan, uhh betapa menyesakkan membagi separuh nafas yang tertinggal sementara separuh nafas yang lain sudah saya titipkan anginuntuk di antar ke Kerinci (nyampe gak ya..)

Comments

Popular posts from this blog

Nasyid SWARA BHUMI STPN Yogyakarta: sebuah catatan perjalanan

Background Alhamdulillah wa sholaatu ala Rasulillah Berawal di penghujung tahun 2013, ketika saya memulai jalan panjang di program S-3 Ilmu Teknik Geomatika, Departemen Teknik Geodesi UGM. Muncul gagasan-gagasan yang berkesinambungan dengan obrolan via telepon dengan Pak Mardianto (STPN 1998) dan Pak Jusvan (STPN 1998). Gagasan untuk re-mastering lagu-lagu nasyid Swara Bhumi. Langkah awal mesti diambil. Inventarisasi rekaman analog yang tersisa dari perjalanan sejarah SWAMI (1999 sd 2002) merupakan langkah awal yang baik. Setelah dodos-dodos (apa ya bahasa Indonesianya), ditemukanlah 2 kaset. Berbekal 2 kaset kompilasi SWAMI itu, yang merekam peristiwa-peristiwa: rekaman di Radio Arma 11, Live Performance di Brebes dan rekaman di Studio Retjo Buntung (album kolaborasi Swami, Justice Voice dan ust Fauzil Adhim: Agar Cinta Bersemi Indah “ACBI”), dimulailah proyek digitalisasi lagu-lagu SWAMI. Bersyukur, gayung bersambut. Pak Trisno (STPN 1998) dan Pak Sugiyanto (STPN 1998) berkenan menja...

Perjalanan Master Tesis

Memang tidak mudah menyusun karya tulis. Apalagi selevel tesis, yang menurut beberapa opini yang saya dengar, inilah level belajar meneliti. Kemarin dulu di level skripsi, belajar menulis. Nah yang bener-bener menulis dan meneliti ya nanti di level disertasi. Saya tidak hendak mengeluh. Saya hendak bercerita. Simak.

Pilpres 2014 dan 2019: perspektif metaforik

Pilpres 2014, bagi saya, adalah pengalaman sejarah negara yang ajaib dalam perspektif pribadi saya. Bagaimana tidak, nama lengkap saya dalam 2 kata terakhirnya mirip dengan nama Pak Joko Widodo (Jkw). Nama lengkap saya FCM Djoko Widodo. Asli, ini tidak ngarang. Itu satu fakta. Fakta lainnya, saya lahir di tanggal dan bulan yang sama dengan Pak Prabowo Subianto (PS). Sejak tahu fakta itu, saya jadi tertarik dengan rekam jejak PS. Saya mulai intens mengikuti perjalanan hidupnya yang ditulis dalam berbagai artikel media massa dan buku-buku biografi tokoh-tokoh penting. Ketika PS intens beriklan, jauh sebelum pilpres 2014, saya heran. Orang ini narsistik atau jenius? Apa maksudnya? Kemanakah arus hendak dia arahkan? Kembali ke Pilpres 2014. Tahun 2014 menjelang pilpres saya termenung-menung, milih yang mana ya? Ketika akhirnya menentukan pilihan, saya masih juga termangu. Kegalauan ini seolah menjelma dalam skala yang lebih luas dengan terbelahnya masyarakat dalam pilpres 2014 lalu. Ya. Te...