Skip to main content

Kado 13

Hai, yang lagi ulang tahun (aslinya sih bulan lalu, he he he terlambat .. gak papa ya?). Gimana pestanya? Penuh pecahan telur dan taburan tepung kah? Semoga seru dan ‘lecek’!

Dan bagemana pula kebingunganmu kemaren? Masih bingung? Gak usah bingung. Yang jelas apapun pilihan adik, saya sangat mendukung. Soalnya, seperti saya bilang kemaren tentang cara belajar otodidak, kegiatan-kegiatan (ekstrakulikuler) tersebut adalah juga salah satu unsur yang menopang cara belajar otodidak. Selain itu dengan kamu mengikuti kegiatan organisasi berarti kamu belajar untuk memahami karakter sesama, dan ini sangat membantu sekali dalam proses menuju kedewasaan.

Perlu diketahui menjadi dewasa dalam usia muda adalah pengalaman hidup yang manis sekali. Lho emang enak jadi dewasa, mungkin itu pikiran adik. Naa pikiran macam begitu perlu diluruskan. Menjadi dewasa tidak sama dengan menjadi tua (walaupun kita memang gak perlu takut menjadi tua, karena menjadi tua adalah pasti, sunatullah! ). Bedanya, menjadi tua adalah suatu kondisi mental spikologis yang semakin meningkat kemampuannya dalam  merespon dinamika kehidupan yang penuh kompleskitas. Jadi tidak setiap orang yang bertambah usianya kemudian otomatis bertambah dewasa (semoga adik yang baru saja bertambah usianya bertambah juga kedewasaannya). Kenyataannya, banyak orang-orang tua yang masih belum juga dewasa. Sebaliknya tidak sedikit juga orang-orang muda yang mencapai taraf kedewasaan dalam usia yang belia.

Kenapa menjadi dewasa itu enak ? Karena, pertama, menjadi dewasa berarti lidah pengecap rasa kita menjadi semakin peka terhadap beragam rasa dan indra penglihatan kita menjadi semakin lebar cakupan spektrum warnanya. Tadinya hanya sebatas mengenal dunia hitam-putih-kelabu, kini seluruh spektrum warna, dari u.v (ultra violet) sampai IR (infra red), berada dalam jangkauan indra kita. Dan tentu saja dengan demikian hidup jadi berasa lebih sedap dan meriah penuh warna.

Kedua, menjadi dewasa tak ubahnya seekor anak burung yang setelah bersusah payah berusaha akhirnya bisa terbang. Mengepak sayap. Menembusi mega putih. Bangga. Mandiri. Yang dalam takaran manusia berarti ia menjadi benar-benar ‘ahsan takwim’, sebagus-bagus ciptaan, karena pada akhirnya bisa membedakan yang benar dan yang salah. Berhasil membedakan yang benar dan mana yang salah kemudian mengkelompokkannya, menarik garis hitam-tebal antara keduanya dan senantiasa menjaga agar garis hitam-tebal itu tidak menjadi kabur oleh pergeseran nilai, dinamika zamana, sekaratnya ekonomi dan abrasi moral.

Okey!? Jad kesimpulannya: Selamat Ulang Tahun, Adik manis!!

catatan :  Essai di atas saya tulis ketika ada waktu kosong di kantor, waktu itu tulisan terasa mengalir begitu saja, enteng dan tanpa pertimbangan, makanya gak heran kalo agak mengada-ada.. ah biarin buat dokumentasi sejarah.

Comments

Popular posts from this blog

Nasyid SWARA BHUMI STPN Yogyakarta: sebuah catatan perjalanan

Background Alhamdulillah wa sholaatu ala Rasulillah Berawal di penghujung tahun 2013, ketika saya memulai jalan panjang di program S-3 Ilmu Teknik Geomatika, Departemen Teknik Geodesi UGM. Muncul gagasan-gagasan yang berkesinambungan dengan obrolan via telepon dengan Pak Mardianto (STPN 1998) dan Pak Jusvan (STPN 1998). Gagasan untuk re-mastering lagu-lagu nasyid Swara Bhumi. Langkah awal mesti diambil. Inventarisasi rekaman analog yang tersisa dari perjalanan sejarah SWAMI (1999 sd 2002) merupakan langkah awal yang baik. Setelah dodos-dodos (apa ya bahasa Indonesianya), ditemukanlah 2 kaset. Berbekal 2 kaset kompilasi SWAMI itu, yang merekam peristiwa-peristiwa: rekaman di Radio Arma 11, Live Performance di Brebes dan rekaman di Studio Retjo Buntung (album kolaborasi Swami, Justice Voice dan ust Fauzil Adhim: Agar Cinta Bersemi Indah “ACBI”), dimulailah proyek digitalisasi lagu-lagu SWAMI. Bersyukur, gayung bersambut. Pak Trisno (STPN 1998) dan Pak Sugiyanto (STPN 1998) berkenan menja...

Don't Become a Scientist!

Apakah Anda berpikir untuk menjadi seorang ilmuwan? Apakah Anda ingin mengungkap misteri alam, melakukan eksperimen atau melakukan perhitungan untuk mempelajari cara kerja dunia? Lupakan! Sains itu menyenangkan dan mengasyikkan. Sensasi penemuan itu unik. Jika Anda cerdas, ambisius dan pekerja keras, Anda harus mengambil jurusan sains sebagai sarjana. Tapi cukup segitu saja. Setelah lulus, Anda harus berurusan dengan dunia nyata. Itu berarti Anda tidak perlu mempertimbangkan untuk lulus sekolah dalam sains. Sebaliknya, lakukan sesuatu yang lain: sekolah kedokteran, sekolah hukum, komputer atau teknik, atau sesuatu yang menarik bagi Anda. Mengapa saya (seorang profesor fisika) mencoba untuk mencegah Anda dari mengikuti jalur karier yang berhasil bagi saya? Karena zaman telah berubah (saya menerima gelar Ph.D saya pada tahun 1973, dan resmi jadi ilmuwan tahun 1976). Ilmu pengetahuan Amerika tidak lagi menawarkan jalur karier yang masuk akal. Jika Anda lulus sekolah sains, itu ber...

Kenali Tanda-tanda Orang Yang Disejahterakan Allah

"Dan orang-orang yang bertakwa kepada Tuhannya dibawa ke dalam surga berombong-rombongan. Sehingga apabila mereka sampai ke surga itu sedang pintu-pintunya telah terbuka dan berkatalah kepada mereka penjaga-penjaganya, kesejahteraan (dilimpahkan) atasmu, berbahagialah kamu! maka masukilah surga ini, sedang kamu kekal di dalamnya" (QS 39:73) Sungguh bahagia orang yang taqwa kepada Tuhannya. Dia akan selalu berada dalam kebaikan. Melalui tanda-tandanya, kamu dapat mengenalinya. - Dimanapun dia berada, kesucian selalu memancar di wajahnya, kedamaian selalu merambah kepada orang-orang di sekitarnya, kedermawanannya selalu mengalahkan kebutuhannya. - Dia tidak disusahkan dengan berkurangnya harta benda dan akalnya selalu berada di atas nafsunya. - Dengan kata-kata, dia selalu menebar keselamatan kepada siapa saja, yang dikenalnya atau tidak. Maka bila kamu ingin dikelompokkan ke dalam golongan orang-orang yang berbahagia tersebut, hendaklah kamu tidak pernah merasa letih untuk men...