Hai, yang lagi ulang tahun (aslinya sih bulan lalu, he he he terlambat .. gak papa ya?). Gimana pestanya? Penuh pecahan telur dan taburan tepung kah? Semoga seru dan ‘lecek’!
Dan bagemana pula kebingunganmu kemaren? Masih bingung? Gak usah bingung. Yang jelas apapun pilihan adik, saya sangat mendukung. Soalnya, seperti saya bilang kemaren tentang cara belajar otodidak, kegiatan-kegiatan (ekstrakulikuler) tersebut adalah juga salah satu unsur yang menopang cara belajar otodidak. Selain itu dengan kamu mengikuti kegiatan organisasi berarti kamu belajar untuk memahami karakter sesama, dan ini sangat membantu sekali dalam proses menuju kedewasaan.
Perlu diketahui menjadi dewasa dalam usia muda adalah pengalaman hidup yang manis sekali. Lho emang enak jadi dewasa, mungkin itu pikiran adik. Naa pikiran macam begitu perlu diluruskan. Menjadi dewasa tidak sama dengan menjadi tua (walaupun kita memang gak perlu takut menjadi tua, karena menjadi tua adalah pasti, sunatullah! ). Bedanya, menjadi tua adalah suatu kondisi mental spikologis yang semakin meningkat kemampuannya dalam merespon dinamika kehidupan yang penuh kompleskitas. Jadi tidak setiap orang yang bertambah usianya kemudian otomatis bertambah dewasa (semoga adik yang baru saja bertambah usianya bertambah juga kedewasaannya). Kenyataannya, banyak orang-orang tua yang masih belum juga dewasa. Sebaliknya tidak sedikit juga orang-orang muda yang mencapai taraf kedewasaan dalam usia yang belia.
Kenapa menjadi dewasa itu enak ? Karena, pertama, menjadi dewasa berarti lidah pengecap rasa kita menjadi semakin peka terhadap beragam rasa dan indra penglihatan kita menjadi semakin lebar cakupan spektrum warnanya. Tadinya hanya sebatas mengenal dunia hitam-putih-kelabu, kini seluruh spektrum warna, dari u.v (ultra violet) sampai IR (infra red), berada dalam jangkauan indra kita. Dan tentu saja dengan demikian hidup jadi berasa lebih sedap dan meriah penuh warna.
Kedua, menjadi dewasa tak ubahnya seekor anak burung yang setelah bersusah payah berusaha akhirnya bisa terbang. Mengepak sayap. Menembusi mega putih. Bangga. Mandiri. Yang dalam takaran manusia berarti ia menjadi benar-benar ‘ahsan takwim’, sebagus-bagus ciptaan, karena pada akhirnya bisa membedakan yang benar dan yang salah. Berhasil membedakan yang benar dan mana yang salah kemudian mengkelompokkannya, menarik garis hitam-tebal antara keduanya dan senantiasa menjaga agar garis hitam-tebal itu tidak menjadi kabur oleh pergeseran nilai, dinamika zamana, sekaratnya ekonomi dan abrasi moral.
Okey!? Jad kesimpulannya: Selamat Ulang Tahun, Adik manis!!
catatan : Essai di atas saya tulis ketika ada waktu kosong di kantor, waktu itu tulisan terasa mengalir begitu saja, enteng dan tanpa pertimbangan, makanya gak heran kalo agak mengada-ada.. ah biarin buat dokumentasi sejarah.
Dan bagemana pula kebingunganmu kemaren? Masih bingung? Gak usah bingung. Yang jelas apapun pilihan adik, saya sangat mendukung. Soalnya, seperti saya bilang kemaren tentang cara belajar otodidak, kegiatan-kegiatan (ekstrakulikuler) tersebut adalah juga salah satu unsur yang menopang cara belajar otodidak. Selain itu dengan kamu mengikuti kegiatan organisasi berarti kamu belajar untuk memahami karakter sesama, dan ini sangat membantu sekali dalam proses menuju kedewasaan.
Perlu diketahui menjadi dewasa dalam usia muda adalah pengalaman hidup yang manis sekali. Lho emang enak jadi dewasa, mungkin itu pikiran adik. Naa pikiran macam begitu perlu diluruskan. Menjadi dewasa tidak sama dengan menjadi tua (walaupun kita memang gak perlu takut menjadi tua, karena menjadi tua adalah pasti, sunatullah! ). Bedanya, menjadi tua adalah suatu kondisi mental spikologis yang semakin meningkat kemampuannya dalam merespon dinamika kehidupan yang penuh kompleskitas. Jadi tidak setiap orang yang bertambah usianya kemudian otomatis bertambah dewasa (semoga adik yang baru saja bertambah usianya bertambah juga kedewasaannya). Kenyataannya, banyak orang-orang tua yang masih belum juga dewasa. Sebaliknya tidak sedikit juga orang-orang muda yang mencapai taraf kedewasaan dalam usia yang belia.
Kenapa menjadi dewasa itu enak ? Karena, pertama, menjadi dewasa berarti lidah pengecap rasa kita menjadi semakin peka terhadap beragam rasa dan indra penglihatan kita menjadi semakin lebar cakupan spektrum warnanya. Tadinya hanya sebatas mengenal dunia hitam-putih-kelabu, kini seluruh spektrum warna, dari u.v (ultra violet) sampai IR (infra red), berada dalam jangkauan indra kita. Dan tentu saja dengan demikian hidup jadi berasa lebih sedap dan meriah penuh warna.
Kedua, menjadi dewasa tak ubahnya seekor anak burung yang setelah bersusah payah berusaha akhirnya bisa terbang. Mengepak sayap. Menembusi mega putih. Bangga. Mandiri. Yang dalam takaran manusia berarti ia menjadi benar-benar ‘ahsan takwim’, sebagus-bagus ciptaan, karena pada akhirnya bisa membedakan yang benar dan yang salah. Berhasil membedakan yang benar dan mana yang salah kemudian mengkelompokkannya, menarik garis hitam-tebal antara keduanya dan senantiasa menjaga agar garis hitam-tebal itu tidak menjadi kabur oleh pergeseran nilai, dinamika zamana, sekaratnya ekonomi dan abrasi moral.
Okey!? Jad kesimpulannya: Selamat Ulang Tahun, Adik manis!!
catatan : Essai di atas saya tulis ketika ada waktu kosong di kantor, waktu itu tulisan terasa mengalir begitu saja, enteng dan tanpa pertimbangan, makanya gak heran kalo agak mengada-ada.. ah biarin buat dokumentasi sejarah.
Comments
Post a Comment