Laily, majalah sudah saya pasang kemari malam. Artikelmu juga nemplok di sana, hanya saja saya minta maaf, karena ulah temen yang ceroboh menumpahkan air sirup menyebabkan separo dari artikelmu rusak dan nyaris tak terbaca lagi, sehingga dengan sangat terpaksa saya potong bagian yang rusak itu. Sungguh, saya sangat sesalkan kejadian ini. Padahal engkau kerjakan artikel dengan semaksimal waktu dan kemampuan.
Saya tahu. Saya yakin. Saya merasakan.
Yang unik artikel yang rusak itu pulalah yang jadi modal pembuatan mading edisi bulan itu. Dengan modal artikel itu, iyya! Yang Cuma satu itu! Saya gebrak semangat temen-temen untuk membuat majalah. Padahal biasanya saya butuh minimal 10 artikel hanya untuk memancing mood membuat majalah, itupun semuanya baru bisa selesai subuh dinihari, dengan start kerja jam 20.00 !! Beda dengan malam itu, saya cuman butuh waktu kurang- lebih 3 jam (dari 19.30 sd. 22.30) untuk menyelesaikan mading.
Sungguh fantastis energi yang engkau picu pada diri saya. Dan memang sengaja menggunakan daya magismu itu untuk menimbulkan gelembung energi di dada. Saat ini mungkin engkau belum akan paham ( sory kalau ini kesannya under-estimate), namun seiring perjalanan kedewasaan hal semacam ini akan menjadi jelas bagimu, yaiutu segala bentuk relasi rasadan karsa ( uuhh teori!).
Untuk hal ini, untuk memanfaatkan daya magismu itu, sepertinya saya harus meminta maaf lagi dan mohon permaklumanmu, karena tidak meminta kesepakatanmu terlebih dahulu.
Kemudian Lail, setelah majalah selesai, pada jam 22.30, saya pulang. Dan kamu tahu, saya langsung terbaring lemas di tempat tidur. Entah kenapa seluruh ruang tendon otot saya seperti hampa, seperti tersedot habis glikogennya. Lunglai, gak bisa bergerak, bahkan untuk memejamkan kelopak mata sekalipun. Jadilah jiwa saya saja, yang lelah, yang tertidur
Tertidur...bersimpi...terjaga.
Tertidur lagi...bermimpi lagi...terjaga lagi.
Mencoba tidur, tapi justru mimpi yang menjelang
dan pagi pun sebentar kemudian juga menjelang...
Saya tahu. Saya yakin. Saya merasakan.
Yang unik artikel yang rusak itu pulalah yang jadi modal pembuatan mading edisi bulan itu. Dengan modal artikel itu, iyya! Yang Cuma satu itu! Saya gebrak semangat temen-temen untuk membuat majalah. Padahal biasanya saya butuh minimal 10 artikel hanya untuk memancing mood membuat majalah, itupun semuanya baru bisa selesai subuh dinihari, dengan start kerja jam 20.00 !! Beda dengan malam itu, saya cuman butuh waktu kurang- lebih 3 jam (dari 19.30 sd. 22.30) untuk menyelesaikan mading.
Sungguh fantastis energi yang engkau picu pada diri saya. Dan memang sengaja menggunakan daya magismu itu untuk menimbulkan gelembung energi di dada. Saat ini mungkin engkau belum akan paham ( sory kalau ini kesannya under-estimate), namun seiring perjalanan kedewasaan hal semacam ini akan menjadi jelas bagimu, yaiutu segala bentuk relasi rasadan karsa ( uuhh teori!).
Untuk hal ini, untuk memanfaatkan daya magismu itu, sepertinya saya harus meminta maaf lagi dan mohon permaklumanmu, karena tidak meminta kesepakatanmu terlebih dahulu.
Kemudian Lail, setelah majalah selesai, pada jam 22.30, saya pulang. Dan kamu tahu, saya langsung terbaring lemas di tempat tidur. Entah kenapa seluruh ruang tendon otot saya seperti hampa, seperti tersedot habis glikogennya. Lunglai, gak bisa bergerak, bahkan untuk memejamkan kelopak mata sekalipun. Jadilah jiwa saya saja, yang lelah, yang tertidur
Tertidur...bersimpi...terjaga.
Tertidur lagi...bermimpi lagi...terjaga lagi.
Mencoba tidur, tapi justru mimpi yang menjelang
dan pagi pun sebentar kemudian juga menjelang...
Coba engkau katakan padaku
Apa yang seharusnya aku lakukan
Bila larut tiba wajahmu terbayang
Kerinduan ini semakin dalam
Coba engkau dengar lagu ini
Aku yang tertidur dan tengah bermimpi
langit-langit kamar jadi penuh gambar
wajahmu yang bening sejuk segar.
(Ebiet: Senandung Rindu)
Comments
Post a Comment