Suatu petang, sungguh suatu kesempatan yang langka, aku bercengkerama dengana Adinda. Obrolan dimulai dengan sapaan-sapaan dan pertanyaan kabar yang rutin itu. (Tapi meski rutin sama sekali tidak membuatku bosan apalagi menguap. Bahkan apabila mekanisme waktu sesederhana mekanisme video player, maka aku akan senantiasa rajin untuk memijit obrolan rewind, selalu!).
Pendeknya, berhubung bolpen udah mau habis dan memang stamina menulis payah, kupersingkat ya kisah ini, yang jelas obrolan kami akhirnya sampai ke topik kasih-sayang-relationship-friendship-brotherhood.
Nih cuplikannya :
Adinda...?
Mmmm...? (respon pendek ini dibarengii dengan formasi wajah yang dingin, cuek dan kokoh – kebayang gak? -,
Suatu pose yang merupakan ciri khasnya)
Kamu tahu mengapa Allah menciptakan Hawa untuk teman Adam?
Adam yang minta. (Adinda selalu bisa menjaab, yah meski yang ini asal-asalan, yang penting kan njawab, aku udah lega kok, sungguh!)
Bisa saja Allah ciptakan kuda, misalnya
Kuda kan hewan, Mas.
Dalam beberapa hal tertentu Adam bisa digolongkan hewan.
Tapi kan beda.
Ok. Ya sudah. Tpi ini ada pertanyaan lain : mengapa Hawa dan bukan Bambang, misalnya?
Hi hi hi...
Loh ko ketawa, jangan bikin aku gemes to.
Abis, lucu.
Lucu gimana.
Iyya lucu. Ya masak Bambang sih.
Maksudnya begini loh, Hawa kan perwakilan nama perempuan dan Bambang kan common-name nya laki-laki, jadi mengapa Allah mencipta perempuan dan bukan laki-laki sebagai pendamping Adam ? Kayak Harun untuk Musa itu contohnya ?
Ngga tau. (Nah kalo dia bilang gak tahu berarti dia bosa dengan pertanyaan saya yang emang wagi itu, Biarin aja !!)
Karena kamu adalah gemerincing lonceng di kaki Dewi Anjani.
Gimana, Mas?
Dan aku adalah padang ilalang gersang terpanggang.
Ah, kok makin membingungkan sih.
Bumi membutuhkan langit untuk berteduh, sebaliknya langit membutuhkan bumi untuk berpijak.
Piye to iki. (He he he, bahasa jawanya ya cuman terbatas ini saja kayaknya ...)
Aku membutuhkan senyum Adinda untuk mengantar mimpiku. (Adinda memerah. Entah karena malu, jengah. Entah jarena kepanasan, emang dia duduk dekat petromaks sih!)
(Adinda diem) ....
Dan dalam mimpi itu Adinda adalah Sinta, sementara aku adalah Rama...
Maksud Mas apa sih ? (Gak sabar dan jengkel rupanya)
Aku sayang Adinda!
Hihhhh. (Menggeram jengkel, membuang muka. Entahlah ketika itu aku gak bisa menebak hatinya)
Aku ingin Adinda menjadi permaisuriku! (wa ini jelas gak ada hubungannya, nut masa bodoh lah kok bisa ngomong begitu ketika itu)
Maasshh !!!! (Ekspresinya mendelik, sewot. Sampe huruf ‘s’ nya dirambah ‘h’ ! Eeee.. malah tambah cakep kamu. Asli !)
Hmm...
A-ku e-m-o-h !!
Loh ?
Nanti Mas tua duluan
Kan malah asoy.
Ih, moh yang tua aku...
Tua kan pertanda matang...
Dan dekat ke busuk .... he he he... (Sialan..)
Buah yang paling dicari orang ya yang matang.
Aku dan Mas bukan buah.
Oke ! Apa maumu sekarang setelah semua terbuka...
Nggak ada!
Baiklah...sekarang aku akan selalu berdoa kepada Allah agar kamu cepat dewasa dan aku tetap awet muda...
Nnaaah puassss !!?
Mmmm ? (Pose ciri khasnya ini terulang lagi, dan sekaligus menutup semua shymphoni di atas karena adzan Isya sudah berkumandang)
catatan : Prosa di atas adalah rekonstruksi semi-real yang begitu saja mengalir dari pena saya. Harapan dan mimpi ada di sna. Juga kenyataan. Saling meningkahi. Sehingga lahirlah prosa di atas. Penuh sindiran. Sindiran mengajak sadar. Sadar posisi. Sadar maqom. Sadar identitas. Ya pokoknya sadar!
Comments
Post a Comment