Nafsu terbangkit oleh matamu yang mengantuk sayu dan bius manis kehadiranmu
Kecemburuan bibirmu mengeringkan permata air terindah
Sedangkan gula pun cair di sana karena malu
Karena kehendak nasib, aku melihatmu melintas di depanku
Dan bagai nyala api, kau tersenyum
Membuatku jatuh lunglai di atas debu, majnun...
Aku tak dapat merasa tenang, bila teringat senyummu itu
Air mata meleleh bagai mencairnya gletser di puncak Everest
Cinta yang garang ini berlangsung terus dan terus
Dan selama itu, aku hidup di jalanan berdebu bersama anjing-anjing!
Karena kehendak nasib pula
Aku beranikan lisanku memintamu meminjami barang sejenak sayu matamu
Iya, ejenak saja
Untuk kuletakkan kepala di haribaan, sang sayu...
Namun mulutmu yang indah berkata...
Pergilah lekas dari atmosfirku atau kau akan terbunuh nanti
Jangan lagi mengemis di depan pintuku, lekaslah pergi...
Badan kasarku pergi, dalam remuk menggumpal..
Namun anganku tertinggal di sana..
Berharap melembutnya sinar mentari
Engkau, patung lilin, molek menyala
Memancarkan api berkilauan
Menghidupkan sutas kecil benang katun di kalbu
Memberinya minyak, dan apinya membakar terus menerus
Tapi biarpun engkau, patung lilin, menyala
Tidak meleleh, tidak musnah termakan api
Malahan semakin kokoh saja tegaknya
Semakin indah saja kulitnya yang berkilau cemerlang memancarkan cahaya
Ekor lirikan di sudut matamu menyemburkan api bagi hatiku
Rona merah pipimu gemetar, menahan pesona
Melemaskan logika akalku
Tutur sapamu, gemerincing
Tiada ada disebandingkan lonceng di kaki Anjani
Gemericik, bagai air mengalir menuruni bukit
Engkau adalah jiwa dari cahaya purnama di sela mega tipis kelabu
Dan bila engkau tersenyum, matahari terbit di wajahmu..
Menyilaukan, membakar dan meluluh-lantahkan sanubariku
(adaptasi Attar "Musyawarah Para Burung")
Syair di atas sebagian besar saya adaptasi dari buku AT-Tar, seorang sufi romantik, dalam bukunya Musyawarah Para Burung. Suatu kebetulan kisah yang dipaparkan dalam beberapa segmen buku itu, saya merasa akrab dengannya. Akrab karena pernah merasakan yang serupa. Suatu kegilaan yang secepat itu timbul secepat itu pula hilang. Dulu saya pernah juuga merasakan. Beberapa kali. Namun tidak separah ini. Majnun, kata orang Arab.
19 Februari 1997
Comments
Post a Comment