Skip to main content

Juwita Malam

Nafsu terbangkit oleh matamu yang mengantuk sayu dan bius manis kehadiranmu
Kecemburuan bibirmu mengeringkan permata air terindah
Sedangkan gula pun cair di sana karena malu

Karena kehendak nasib, aku melihatmu melintas di depanku
Dan bagai nyala api, kau tersenyum
Membuatku jatuh lunglai di atas debu, majnun...

Aku tak dapat merasa tenang, bila teringat senyummu itu
Air mata meleleh bagai mencairnya gletser di puncak Everest

Cinta yang garang ini berlangsung terus dan terus
Dan selama itu, aku hidup di jalanan berdebu bersama anjing-anjing!

Karena kehendak nasib pula
Aku beranikan lisanku memintamu meminjami barang sejenak sayu matamu
Iya, ejenak saja
Untuk kuletakkan kepala di haribaan, sang sayu...

Namun mulutmu yang indah berkata...
Pergilah lekas dari atmosfirku atau kau akan terbunuh nanti
Jangan lagi mengemis di depan pintuku, lekaslah pergi...

Badan kasarku pergi, dalam remuk menggumpal..
Namun anganku tertinggal di sana..
Berharap melembutnya sinar mentari

Engkau, patung lilin, molek menyala
Memancarkan api berkilauan
Menghidupkan sutas kecil benang katun di kalbu
Memberinya minyak, dan apinya membakar terus menerus

Tapi biarpun engkau, patung lilin, menyala
Tidak meleleh, tidak musnah termakan api
Malahan semakin kokoh saja tegaknya
Semakin indah saja kulitnya yang berkilau cemerlang memancarkan cahaya

Ekor lirikan di sudut matamu menyemburkan api bagi hatiku
Rona merah pipimu gemetar, menahan pesona
Melemaskan logika akalku

Tutur sapamu, gemerincing
Tiada ada disebandingkan lonceng di kaki Anjani
Gemericik, bagai air mengalir menuruni bukit
Engkau adalah jiwa dari cahaya purnama di sela mega tipis kelabu

Dan bila engkau tersenyum, matahari terbit di wajahmu..
Menyilaukan, membakar dan meluluh-lantahkan sanubariku
(adaptasi Attar "Musyawarah Para Burung")

Syair di atas sebagian besar saya adaptasi dari buku AT-Tar, seorang sufi romantik, dalam bukunya Musyawarah Para Burung. Suatu kebetulan kisah yang dipaparkan dalam beberapa segmen buku itu, saya merasa akrab dengannya. Akrab karena pernah merasakan yang serupa. Suatu kegilaan yang secepat itu timbul secepat itu pula hilang. Dulu saya pernah juuga merasakan. Beberapa kali. Namun tidak separah ini. Majnun, kata orang Arab.

19 Februari 1997

Comments

Popular posts from this blog

Nasyid SWARA BHUMI STPN Yogyakarta: sebuah catatan perjalanan

Background Alhamdulillah wa sholaatu ala Rasulillah Berawal di penghujung tahun 2013, ketika saya memulai jalan panjang di program S-3 Ilmu Teknik Geomatika, Departemen Teknik Geodesi UGM. Muncul gagasan-gagasan yang berkesinambungan dengan obrolan via telepon dengan Pak Mardianto (STPN 1998) dan Pak Jusvan (STPN 1998). Gagasan untuk re-mastering lagu-lagu nasyid Swara Bhumi. Langkah awal mesti diambil. Inventarisasi rekaman analog yang tersisa dari perjalanan sejarah SWAMI (1999 sd 2002) merupakan langkah awal yang baik. Setelah dodos-dodos (apa ya bahasa Indonesianya), ditemukanlah 2 kaset. Berbekal 2 kaset kompilasi SWAMI itu, yang merekam peristiwa-peristiwa: rekaman di Radio Arma 11, Live Performance di Brebes dan rekaman di Studio Retjo Buntung (album kolaborasi Swami, Justice Voice dan ust Fauzil Adhim: Agar Cinta Bersemi Indah “ACBI”), dimulailah proyek digitalisasi lagu-lagu SWAMI. Bersyukur, gayung bersambut. Pak Trisno (STPN 1998) dan Pak Sugiyanto (STPN 1998) berkenan menja...

Don't Become a Scientist!

Apakah Anda berpikir untuk menjadi seorang ilmuwan? Apakah Anda ingin mengungkap misteri alam, melakukan eksperimen atau melakukan perhitungan untuk mempelajari cara kerja dunia? Lupakan! Sains itu menyenangkan dan mengasyikkan. Sensasi penemuan itu unik. Jika Anda cerdas, ambisius dan pekerja keras, Anda harus mengambil jurusan sains sebagai sarjana. Tapi cukup segitu saja. Setelah lulus, Anda harus berurusan dengan dunia nyata. Itu berarti Anda tidak perlu mempertimbangkan untuk lulus sekolah dalam sains. Sebaliknya, lakukan sesuatu yang lain: sekolah kedokteran, sekolah hukum, komputer atau teknik, atau sesuatu yang menarik bagi Anda. Mengapa saya (seorang profesor fisika) mencoba untuk mencegah Anda dari mengikuti jalur karier yang berhasil bagi saya? Karena zaman telah berubah (saya menerima gelar Ph.D saya pada tahun 1973, dan resmi jadi ilmuwan tahun 1976). Ilmu pengetahuan Amerika tidak lagi menawarkan jalur karier yang masuk akal. Jika Anda lulus sekolah sains, itu ber...

Kenali Tanda-tanda Orang Yang Disejahterakan Allah

"Dan orang-orang yang bertakwa kepada Tuhannya dibawa ke dalam surga berombong-rombongan. Sehingga apabila mereka sampai ke surga itu sedang pintu-pintunya telah terbuka dan berkatalah kepada mereka penjaga-penjaganya, kesejahteraan (dilimpahkan) atasmu, berbahagialah kamu! maka masukilah surga ini, sedang kamu kekal di dalamnya" (QS 39:73) Sungguh bahagia orang yang taqwa kepada Tuhannya. Dia akan selalu berada dalam kebaikan. Melalui tanda-tandanya, kamu dapat mengenalinya. - Dimanapun dia berada, kesucian selalu memancar di wajahnya, kedamaian selalu merambah kepada orang-orang di sekitarnya, kedermawanannya selalu mengalahkan kebutuhannya. - Dia tidak disusahkan dengan berkurangnya harta benda dan akalnya selalu berada di atas nafsunya. - Dengan kata-kata, dia selalu menebar keselamatan kepada siapa saja, yang dikenalnya atau tidak. Maka bila kamu ingin dikelompokkan ke dalam golongan orang-orang yang berbahagia tersebut, hendaklah kamu tidak pernah merasa letih untuk men...