Saya buka kisah dengan latar belakang kisahnya mengambil setting sekitar pengumuman UMPTN tahun 1996, (ini kesempatan terakhir, yang pertama sih keterima, tapi gak puas). Ahh ternyata lolos, alias tidak ada nama saya di situ. Saya pulang lapor ke Ibu, beliau dengan sangat ringan dan sejuk bilang ah belum rezeki kamu kuliah di Yogya, udah liburnya nambah lagi....
Saya ketawa, trus saya cari makan... habis makan saya bawa motor ke gundukan tanah Graha Padma (waktu itu belum jadi perumahan), saya merenung di ujung urugan tanah itu. Sambil tetap di atas motor.
Teringat adik-adik di Miftahul Jannah. Koq gak bisa ngasih contoh prestasi yang membanggakan dan bisa dijadikan panutan. Koq saya gagal. Koq saya gak bisa memenuhi nasehat yang saya camkan ke adik-adik : Kalian harus berprestasi, tunjukkan pada dunia bahwa anak IKARI bukan anak sembarangan. Saya malu.
Trus saya teringat Ibu saya, memang beliau terkesan nyante dan tenang, namun saya yakin ntar malem setelah tahajud pasti bersimbah air mata mikirin anaknya yang ‘mbalelo’ ini (suatu hal: nanti berat air mata ibu saya itu, akhirnya saya jadi juga kuliah di Yogya).
Trus ingat santri bandel kesayangan saya. Wah tambah sedih gak bisa memenuhi harapan dan imajinasinya tentang saya : Superman, Tuan Segalatahu, Mr. Brainfull, dll. Dan tahu-tahu ada yang menetes... tadinya cuma gerimis, terus jadi deras sekali...
Saya ketawa, trus saya cari makan... habis makan saya bawa motor ke gundukan tanah Graha Padma (waktu itu belum jadi perumahan), saya merenung di ujung urugan tanah itu. Sambil tetap di atas motor.
Segala kegagalan
Kehancuran
Putus asa
Patah arang
Terhina
Harga diri
Terkulai lemas
Ditatapi mata kosong berpuluh ekor kerbau
Gundukan tanah gersang
Rawa bakau yang sepi
Membentuk gelombang gaib
Menyesakkan dan meledakkan dada
Harga diri yang terlukai, mengalir
Menetesi tanah berdebu
Menggema dan bercerita
Teringat adik-adik di Miftahul Jannah. Koq gak bisa ngasih contoh prestasi yang membanggakan dan bisa dijadikan panutan. Koq saya gagal. Koq saya gak bisa memenuhi nasehat yang saya camkan ke adik-adik : Kalian harus berprestasi, tunjukkan pada dunia bahwa anak IKARI bukan anak sembarangan. Saya malu.
Trus saya teringat Ibu saya, memang beliau terkesan nyante dan tenang, namun saya yakin ntar malem setelah tahajud pasti bersimbah air mata mikirin anaknya yang ‘mbalelo’ ini (suatu hal: nanti berat air mata ibu saya itu, akhirnya saya jadi juga kuliah di Yogya).
Trus ingat santri bandel kesayangan saya. Wah tambah sedih gak bisa memenuhi harapan dan imajinasinya tentang saya : Superman, Tuan Segalatahu, Mr. Brainfull, dll. Dan tahu-tahu ada yang menetes... tadinya cuma gerimis, terus jadi deras sekali...
Comments
Post a Comment